
Selesai Qiyamul lail, aku duduk bersimpuh kehadapan Allah ilahi rabbi.
Aku ingin mengadili diriku sebelum diadili diakhirat nanti.
Ada secercah cahaya hadir dalam hatiku.
Setelah sekian lama aku tidak pernah mendirikan shalat malam.
Lantas akupun berdialog dengan nuraniku.
Aku
Mengapa hingga detik ini aku begitu sulit menghafal Al-Qur’an, bahkan yang sudah hafalpun, sedikit demi sedikit hilang dari ingatanku?
Nurani
Sahabatku, penyebabnya adalah akhlakmu yang belum Qur’ani, kamu selalu lebur dalam kemaksiatan. Sehingga Allah belum percaya kepadamu, ini merupakan peringatan dan kasih sayang-Nya.
Aku
Kasih sayang…! Kasih sayang bagaimana?
Nurani
Coba bayangkan, apa yang terjadi seandainya kamu hafal Al-Qur’an sementara akhlakmu jauh darinya?.
Aku tersipu malu, setelah membayangkan akibat yang aku terima apabila
hafal Al-Qur’an hanya dimulut saja, setidaknya dosaku berlipat ganda.
Dosa melanggar perintah Allah dan dosa melalaikan ilmu titipan Allah Swt.
Aku
Nurani, Nurani!, Engkau memang sahabatku yang paling jujur, hanya saja aku yang terlalu sering mendustaimu, lalu mengapa akhir-akhir ini kamu jarang menasihatiku?.
Nurani
Lho…! Jangan salahkan aku, sebab setiap kali kamu melakukan satu dosa, mataku menjadi hitam pekat, akhirnya aku buta untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Bukankah kamu sering jelalatan setiap melihat cewek cantik?
Suasana sejenak hening, tak berapa lama nuraniku berbicara lagi
Nurani
Tapi sekarang aku bening kembali, karena dibasuh oleh tangisanmu ini
Aku terhenyak mendengarnya. Nuraniku langsung memeluk jiwaku.
Dekapan kasih sayang-nya begitu terasa, kemudian dia berbisik kepadaku;
Nurani
Sahabatku jangan bohongi aku lagi yah, mau kan…?
Dengan malu-malu tapi pasti aku menanggapi ajakan itu.
Kembali ia memelukku. Kubenamkan wajah batinku dipangkuannya.
Kami menangis bersama menyesali sepotong kisah kelabu masa lalu.
Di sela isakanku, aku berkata lirih:
Aku
Nurani, bantu aku yah, supaya istiqomah dalam taubat dan jangan sungkan-sungkan menegurku, jika aku salah jalan!
Aku melihat nuraniku tersenyum. Aku pun ikut tersenyum.
Senyuman ini aku hadiahkan untuk sehari-hari berikutnya.
Akan kutulis lembaran hidup dengan tinta Taqwa.
(Hakim from “Bara musa ditaman terpasung”)

Entries (RSS)