
Seribu harapan kutambatkan pada ranting kayu yang lapuk.
Pada dahan rimbun nan kokoh.
Aku pernah menjadi bahu tempat bersandar.
Aku pun pernah menjadi tiang tempat berpegang tanpa pamrih dan imbalan.
Namun, aku pun butuh bahu tempat bersandar.
Atau sebuah tiang tempat berpegang.
Aku butuh payung tempat berlindung
Atau awan tempat kubernaung.
Aku butuh air mata saat kuberselimut duka.
Aku tak perlu tawa karena dia dapat kutemukan dimana saja.
Aku tak perlu canda karena dia selalu datang tanpa kupinta.
Yang aku butuhkan adalah nasihat disaat kutersesat
Atau semangat yang mendorongku saat penat.
Aku ingin taman bunga agar aku bisa rebah berbaring tuk hilangkan resah.
Aku ingin mentari yang selalu menyapaku di pagi hari.
Aku ingin senja yang selalu pamit jika dia mau pergi.
Aku ingin malam yang selalu menyelimuti di saat aku dingin, gerah, dan lelah.
Namun, belum ada yang mau mengerti
Atau mungkin malu untuk mengakui.
Seperti fajar yang menyingsing tertutup awan.
Hanya menambah dingin dan kesal.
Keheningan dan kesendirian… sampai kapan?
Sampai kita berani jujur pada diri sendiri.
Sampai kita berani tuk berbagi.
Sampai kita berani mengakui.
Bahwa malam memerlukan siang.
Bahwa laut memerlukan daratan.
Jujur bukan dengan berkata di belakang
Tapi jujur dengan berkata di depan.
8 Mei 2004
Najd El-Hakim

Entries (RSS)
haha…hihi..huhu..
weleh…weleh…si akang nie…ceritanya lagi merana!!!
udah…jangan dipikirin terus tuh…si do’i yang gak ngerti perasaan lho…
insya allah, kin nie da’ hikmahnya tuk You!!! bangkit…man…
dan tar satu waktu lho dapat bunga yang lebih harum…dan kau kan jadi kumbang…yang siap menghisap madu…
buktiin man eloh anak pinter…
kalo lho pengen curhat…leh aq tampung.
Makanya bagi2 dunk ketika kau gie sedih atau senag…kita pokoknya bakal bantu lah…
cerio…
emang kalo lagi sakit ati tuh…biasanya rang jadi kreatif kaya eloh….