Mujahid
Sayapnya masih terlihat rapuh, jalannya pun tertatih-tatih menahan berat tubuhnya yang berpeluh. Diantara dahan dan ranting-ranting kering dan lapuk, dia tetap berusaha dengan segenap tenaga yang ada, mencoba dan terus mencoba karena harapan kan selalu ada untuk menggapai mimpi, cita, dan cinta.

Di ketinggian sana, di atas gunung yang tinggi menjulang, di atas sebuah pohon besar yang kokoh bagaikan karang, dan di tengah percabangan dahan tempat dia terlahir dan dibesarkan, dia melepaskan pandangannya nun jauh kesana. Terlihat putih awan putih dihiasi jingga mengiringi kepergian sang senja yang berjalan mendampingi surya.

Dia tersenyum ketika sehelai bulunya jatuh tertiup angin. Pandangan dan senyumnya tak lepas dari bulunya yang jatuh dari satu pelukan angin ke pelukan angin lainnya, menari-nari di atas simfoni udara, diiringi nyanyian daun yang beradu seakan sebuah orkestra dengan suara merdu dan sendu.

Sehelai bulu itu terdengar berteriak keras sambil melepaskan tawanya, indah… Begitu indah alam ini, saat kau melayang-layang di udara, menari-nari di angkasa, kau akan merasakan keindahan yang luar biasa… cita-citamu kan segera terwujud jika kau mempunyai tekad membaja layaknya sang ombak yang tak pernah lelah menghantam kokohnya karang sang penjaga.

Lalu… sehelai bulu itu pun menyentuh tanah, mulai dari lututnya lalu tangannya kemudian keningnya, dia bersujud… dan terus bersujud dari satu tanah ke tanah yang lainnya. Sampai akhirnya dia terdiam, tak bergerak lagi.

Burung kecil itu membisu, termenung… dan dalam sekejap dia mulai mengembangkan sayapnya yang masih terlihat rapuh… lalu dia melompat sambil berteriak… Aku datang wahai angin… aku datang wahai awan… akan kutembus badai, kan kulalui segala aral merintang… untukmu cita, untukmu harapan, untuk Tuhan, dan atas nama keadilan…!!!

Dia tersenyum puas ketika dia tahu bahwa dia mampu, ketika sadar bahwa dia mulai tegar, ketika bisa karena mulai terbiasa, ketika jalan menuju cita terbentang bagai pelangi membelah awan, ketika harapan semakin kuat dan bukan hanya sekedar angan-angan.

Burung kecil itu mulai menari-nari bersama awan. Angin mencoba merintangi jalurnya terbang. Dengan segenap kekuatan burung kecil itu terus menghindar tanpa berusaha melawan, karena dia tahu angin bukanlah lawan melainkan kawan yang mencoba melatihnya dengan berperan sebagai aral yang melintang.

Lawannya di atas sana, gunung kesombongan, ketidak adilan, kerakusan, keserakahan, nafsu yang tak pernah berhenti meminta dan memelas agar segera dipenuhi dan merasa puas walau kenyataannya dia menipu karena dia tak mempunyai batas. Lawannya di bawah sana, lembah kesulitan, keprihatinan, kegelapan, khayalan, kecemasan, keputusasaan, ketakutan, kebingungan, dan lembah kehilangan. Lawan-lawan yang harus dia tundukkan…

Moga Allah Swt memberi kekuatan kepada para Mujahid Kecilku

Untuk Adikku yang terkecil
Awal Milenium saat menyambut kedatanganmu

No Responses to “Mujahid dan Burung Kecil”
  1. Dunia terlalu sempit untuk kau taklukkan, cobalah taklukkan alam yang belum pernah tersentuh, alam yang tak pernah terbayangkan, dimana mata tak mampu melihatnya, dimana telinga tak bisa mendengarnya, dimana pikiran tak mampu menggambarkannya, dimana hati tak pernah mampu merasakannya….. cobalah taklukkan dia, alam yang belum ada tapi dia pasti dan benar ada.

    Aku yakin, kau pun yakin, dia juga yakin, mereka sama yakin, dan kita semua yakin, tapi banyak diantara kita yang mengingkarinya.

    Cobalah kau taklukkan wahai Mujahid kecil, aku tahu kamu bisa, dan kita tahu bahwa kita mampu.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>