Archive for January, 2006
Posted by: hakimtea in Catatan
Begitulah hidup, tak pernah bisa terduga. Rasanya baru kemarin aku menangis, kini aku mulai tersenyum, bahkan aku dipaksa tertawa meski tanpa suara. Aaahhh, kawan! Aku lebih suka senyum ketimbang tawa. Namun, aku masih bingung kawan, dan tinggal dua pilihan sekarang. Pilihan ketiga telah terbuang hilang. Kawan, pilihan ini menentukan masa depanku, harapanku, cita-citaku, doa mereka yang peduli dan sayang padaku. Dalam kebahagiaanku aku bingung kawan. Semoga engkau tak ikut bingung.
Di akhir Januari yang indah ini aku tebarkan senyum, untukmu kawan dan untuk kebingungan.
No Comments »
Posted by: hakimtea in Catatan
Pekan Amal 2003,-

Tak mampu menundukkan pandangan ini dari sorot mata sayu nan indah itu.
Lentik bulu matanya, begitu… Ya Allah ya Rabb… Ampunilah kelemahan hamba ini…!
Dia terlihat lelah, mungkin karena tugasnya sebagai panitia Pekan Amal ‘03 menyita seluruh tenaga dan pikirannya. Namun dia tetap tersenyum, terlihat penuh semangat.
Ya Rabb… begitu indahnya ciptaan-Mu itu.
Tak sedetik pun kulepaskan pandangan ini dari sosok indah itu.
Ya Rabb! Jilbabnya itu lho, lebar!, menutup seluruh auratnya. Tapi dia tetap modis dan anggun.
Cara dia berjalan, tersenyum, menoleh, menyapa, tertawa. Aah yaa Rabb!
“Hei… Gadla bashar!!!” Nuraniku membentak. Tapi aku tak bisa.
Tolonglah Nurani, untuk saat ini saja. Lagi pula pandangan ini tanpa syahwat, hanya sebatas kekaguman saja, nafsuku menghelah. Dan biar, biar saja, biar dia tahu bahwa saat ini ada yang memperhatikannya.
* * *
Hari ini, tiga tahun yang lalu, matanya masih tetap memancarkan keindahan.
Dan hari ini, seperti halnya tiga tahun yang lalu, aku hanya bisa mengaguminya tanpa berani mengatakan… bahwa, kamu sungguh indah…!
No Comments »
Posted by: hakimtea in Catatan
Pekan Amal 2003,-

Tak mampu menundukkan pandangan ini dari sorot mata sayu nan indah itu.
Lentik bulu matanya, begitu… Ya Allah ya Rabb… Ampunilah kelemahan hamba ini…!
Dia terlihat lelah, mungkin karena tugasnya sebagai panitia Pekan Amal ‘03 menyita seluruh tenaga dan pikirannya. Namun dia tetap tersenyum, terlihat penuh semangat.
Ya Rabb… begitu indahnya ciptaan-Mu itu.
Tak sedetik pun kulepaskan pandangan ini dari sosok indah itu.
Ya Rabb! Jilbabnya itu lho, lebar!, menutup seluruh auratnya. Tapi dia tetap modis dan anggun.
Cara dia berjalan, tersenyum, menoleh, menyapa, tertawa. Aah yaa Rabb!
“Hei… Gadla bashar!!!” Nuraniku membentak. Tapi aku tak bisa.
Tolonglah Nurani, untuk saat ini saja. Lagi pula pandangan ini tanpa syahwat, hanya sebatas kekaguman saja, nafsuku menghelah. Dan biar, biar saja, biar dia tahu bahwa saat ini ada yang memperhatikannya.
* * *
Hari ini, tiga tahun yang lalu, matanya masih tetap memancarkan keindahan.
Dan hari ini, seperti halnya tiga tahun yang lalu, aku hanya bisa mengaguminya tanpa berani mengatakan… bahwa, kamu sungguh indah…!
No Comments »
Posted by: hakimtea in Catatan
Pekan Amal 2003,-

Tak mampu menundukkan pandangan ini dari sorot mata sayu nan indah itu.
Lentik bulu matanya, begitu… Ya Allah ya Rabb… Ampunilah kelemahan hamba ini…!
Dia terlihat lelah, mungkin karena tugasnya sebagai panitia Pekan Amal ‘03 menyita seluruh tenaga dan pikirannya. Namun dia tetap tersenyum, terlihat penuh semangat.
Ya Rabb… begitu indahnya ciptaan-Mu itu.
Tak sedetik pun kulepaskan pandangan ini dari sosok indah itu.
Ya Rabb! Jilbabnya itu lho, lebar!, menutup seluruh auratnya. Tapi dia tetap modis dan anggun.
Cara dia berjalan, tersenyum, menoleh, menyapa, tertawa. Aah yaa Rabb!
“Hei… Gadla bashar!!!” Nuraniku membentak. Tapi aku tak bisa.
Tolonglah Nurani, untuk saat ini saja. Lagi pula pandangan ini tanpa syahwat, hanya sebatas kekaguman saja, nafsuku menghelah. Dan biar, biar saja, biar dia tahu bahwa saat ini ada yang memperhatikannya.
* * *
Hari ini, tiga tahun yang lalu, matanya masih tetap memancarkan keindahan.
Dan hari ini, seperti halnya tiga tahun yang lalu, aku hanya bisa mengaguminya tanpa berani mengatakan… bahwa, kamu sungguh indah…!
No Comments »
|