Archive for April, 2006

Namun takkan mudah bagiku
Meninggalkan jejak hidupku
Yang t’lah terukir abadi
Sebagai kenangan yang terindah…..

Bait lagu dari grup band pendatang baru di blantika musik pribumi, mengiringi tumpukan ketikan yang mesti bin kudu alias wajib adiknya dateline, selesai akhir minggu ini. Cape, lelah, suntuk, boring. Namun, apa boleh buat… Kerjaan sampingan yang bikin kebablasan…. tapi ya lumayanlah…

Denger lagu ini jadi ngerasa kesindir deh, terpaksa markir dulu jadwal ngetik, ngelamun en bayangin… wuih, yaa Allah yaa muqallibal quluub tsabbit qalbii ‘alaa diinika…

Fren, ga mudah memang meninggalkan jejak kenangan, apalagi jika telah terukir abadi… wuiiih… apalagi? hehe… Yang jelas emang bener. Janji tiga tahun, Maret kemarin udah berkurang tinggal dua tahun lagi, untuk ngekhitbah dan trus menikah. Namun, apa yg terjadi fren??? Kita berpisah… (sedih ya). Masalahnya cukup pelik juga fren, but, ga mungkinlah aku ceritain semuanya disini, salah satunya aja ya fren, perhaps, karena jarangnya komunikasi (padahal itu komitmen kita dulu) yaa itung2 untuk menghindari hal2 yg syubhat, biar terhindar dari hal2 yg “diinginkan…” hehe, tapi… yg jelas kita pisahan dan janji hanya sebagai teman, saudara dalam iman dan Islam, dan lantas saling mendo’akan, semoga mendapat pengganti yg lebih baik. Aamien… Ughh

SMS masuk fren, dari sohib lama dia di luar kota sekarang, dia lagi sedih katanya, WHAAAATTT….!!! Dia pisah ma someonenya dan sekarang orang yg dia cintai itu akan menikah dengan orang lain… ugh… Ternyata, ada juga yang lebih tragis nasibnya. Aku cuma pisah sedangkan dia pisah en plus someonenya mau langsung nikah ma yg lain, duuh tragis banget fren…

Aku balas SMS-nya sekaligus pelipur laraku sendiri: Ukhti, semua ini tentu saja ujian dari Allah, untuk menguji sejauh mana keimanan kita. Yakinlah, bahwa dengan mendapat ujian, berarti Allah masih care ma kita dan yakin juga segala yg terjadi ma diri kita adalah yg terbaik menurut ilmu Allah dan sekali lagi yakin, suatu saat nanti Allah akan mengganti dengan yg lebih baik. Amien…

*** Untuk sohibku Wedy, SMS kamu kemarin menghentakku, ternyata kita senasib… semua ini ujian fren, sabar aja! anti ga sendiri ko! Dan yakinlah, bahwa itu yg terbaik fren! Dan yakin juga kita bakal mendapat pengganti yang lebih baik… Insya Allah.

Comments No Comments »

“Saya sadar bahwa tindakan ini salah.” Jawabku tertunduk didepan Kang Anshor, seniorku yang biasa kupanggil, Akang. “Namun, jika memang realitas mengarahkan saya untuk berada pada situasi ini, saya mempunyai alasan untuk melakukannya. Dan Akang pun mungkin tahu kenapa saya seakan lari dan lepas tanggung jawab dari anak-anak gombong.”

Semua ini merupakan akumulasi dari berbagai persoalan yang sebenarnya Akang sendiri terlibat langsung. Jabatan Sekjen Gombong yang akang amanatkan membuat saya senantiasa berpikir dan berpikir untuk kemajuan komunitas gombong ini. Lahirlah berbagai macam konsep yang kemudian saya ajukan di forum syuro, berbulan-bulan rapat saya ikuti. Konsep terakhir ketika saya mengajukan dalam rapat terbatas itu tiga usulan;

Yang pertama, bahwa sudah saatnya anak gombong mengurus diri mereka sendiri. Jika sebelumnya pengurusan terletak di pundak kita, para senior, kini biarlah mereka yang mengurus diri mereka sendiri sebagai bahan pelatihan bagaimana mereka harus bekerja dalam sebuah team, sebuah organisasi, tentu saja, kita tidak melepaskan begitu saja, kita pun bekerja pula bersama mereka, hanya saja kita sebagai pembina, pendamping, dan sebagai Qadi.

Yang kedua, anak gombong perlu memiliki sebuah sistem, dan kalaupun sistem itu telah ada, kita perlu memperkuat dan mempertegas sistem tersebut. Jika sistem terdahulu tidak berjalan, kita harus senantiasa berintrofeksi, sebuah sistem bukan hanya berada pada hafalan kepala, tapi perlu hitam di atas putih. Jika ternyata masih tak berjalan, jangan sekali-kali kita menyalahkan sistem, namun, kita mesti tinjau ulang sumber daya manusia yang berada dan hidup dalam ruang lingkup sistem tersebut.

Yang ketiga, sebuah sistem yang telah tertulis hitam di atas putih, diterapkan di tengah sumber daya manusia yang concern terhadap kedisiplinan pun tak kan mampu berbuat banyak jika tidak ada keteladanan dari para senior, alumni, dan asatidzah.

Oleh karena itu anak gombong memerlukan pengurusan baru, sebuah strong sistem, dan keteladanan yang dapat menjadi problem solver bagi kedisiplinan mereka, permasalahan mereka, dan sebagai pembelajaran bagi mereka tentang penting dan indahnya hidup dalam batas aturan-aturan. Forum menerima ketiga usulan tersebut dan Akang sendiri menunjuk saya langsung sebagai kepala koordinasi Penyusunan Rancangan Undang-Undang Anak-Anak Gombong (RUU AAG).

Dalam waktu sebulan, atas izin Allah, alhamdulillah, RUU AGG tersusun sudah dalam bentuk draff dengan mengenyampingkan segala kesibukan pekerjaan. Saya sadar ke-aku-an ini terlalu besar, hingga mungkin Akang mengira, saya tidak ikhlas menyusun RUU AAG itu, wallahu a’lam, hanya Allah-lah yang Maha tahu.

Ketika RUU AAG itu dipresentasikan, pro-kontra mewarnai jalannya rapat, namun memang kita tidak bisa memberi kepuasaan kepada semua pihak. Yang mengherankan saya Kang, kenapa waktu itu yang kontra bukan dari kalangan santri, yang notabene mereka yang akan menjalani serta terbebani oleh peraturan yang begitu ketat tersebut?. Setelah kita mengambil asas “wasyawirhum fil-amri dan wa syuroo bainahum.” Alhamdulillah, akhirnya akang mengetuk palu, dan pengurusan baru diserahkan pada santri serta RUU AAG disahkan menjadi UU AG, dengan pertimbangan untuk kemaslahatan dan kedisiplinan bersama.

Pemilihan kepengurusan anak gombong telah dilaksanakan, Musthafa Jamil terpilih sebagai Amir Al-Thullab. Tak lama kemudian UU AG disosialisikan selama sebulan, tanpa adanya sanksi dan hukuman bagi para pelanggar, setelah itu barulah sanksi-sanksi yang cukup berat, mendidik, dan tegas dijalankan.

Namun, kekhawatiran yang terpendam terbukti sudah, setelah beberapa konsep sebelumnya tidak berjalan, rapat-rapat dengan keputusan yang selalu diperdebatkan kembali diluar forum. Lantas kali ini, dukungan terhadap kepengurusan baru dari para senior serta pelaksanaan UU AG seakan tak ada sama sekali. Ditambah Akang selalu tidak ada karena si kecil Nazwa hadir sebagai penghias pernikahan akang dua tahun yang lalu, kami terlalu sulit untuk menghubungi Akang, kami seakan kehilangan tempat mengadu. Namun, kita coba untuk tidak terlalu bergantung pada sosok Akang, oleh karena itu, dua kali pertemuan kembali diagendakan untuk merefresh kembali kepengurusan dan sistem yang telah disahkan itu.

Pertemuan pertama, berhasil menggugah semangat jihad mereka untuk kembali berjuang bersama menegakkan kedisiplinan dan mengatur barisan dengan landasan Allah menyukai orang-orang yang berjihad di jalannya dengan barisan yang teratur rapi. Hanya dua minggu kang, semangat itu kembali padam. Pertemuan kedua kembali diagendakan, dan pada waktu itulah saya berjanji kepada diri sendiri, jika setelah pertemuan ini, konsep hanya tinggal konsep, teori hanya sebatas teori,ertemuan hanya menghasilkan gibah. Saya akan berlepas diri dari anak-anak gombong, saya tak kan mau peduli lagi apa yang terjadi pada mereka, silahkan urus diri sendiri, dan untuk para senior, para alumni, saya cam-kan dalam hati, saya bukan lagi bagian dari kalian lagi, karena kesholidan kita sudah terkubur mati, karena hasud, iri, dan dengki. Semoga Allah mengampuni kebusukan hati kita dan memberi taufik hidayah pada kita semua, Amien!

Kang Anshor, sekali lagi saya katakan, keacuhan ini merupakan akumulasi dari berbagai sistem, konsep yg tak pernah bisa berjalan di komunitas anak gombong ini. Padahal Akang saksikan sendiri bagaimana sistem yang diterapkan pada anak gombong ASP, anak gombong GS, anak gombong Putri UR, sistem mereka lebih ketat dan lebih tegas dari sistem yang kami rancang, tapi kenapa sistem yang lebih ketat bisa diterapkan di tempat lain sedang sistem yang masih mempunyai batas toleransi tidak bisa diterapkan disini. Ini yang membuat saya kehilangan kepercayaan pada anak-anak gombong khususnya dan kehilangan rasa kebersamaan dan kesholidan pada rekan-rekan jajaran senior, para alumni pada umumnya.

Oleh karena itu salahkah saya jika mengambil sikap walk out dan tak mau peduli lagi dengan urusan ini?

Namun, yang sangat saya sesalkan adalah, saya telah kehilangan Akang yang dulu, Akang yang selalu ada menegur saya ketika khilaf dan lupa, dan Akang lakukan hal itu ketika kita berdua tanpa harus membuka aib di depan mereka. Saya telah kehilangan Akang yang selalu tabayun, cek and ricek, terhadap berita yang sampai, dari siapa pun itu, secara pribadi, face to face, sebelum vonis dijatuhkan, Akang selalu bertanya. Kini, Akang bermain langsung menjatuhkan vonis, terlepas apakah tersangka benar bersalah atau tidak dan itu akang lakukan di depan umum.

Namun, jika kita hendak membangun kembali, saya selalu hadir disini kang!.

(Untuk Kang Anshor dan rekan-rekan This Q, 8 April 2006)

Comments No Comments »