Sore itu berita duka melengkapi kesedihanku. Al-Ustadz Abdul Qodir yang biasa disapa Ustadz Abqo telah dipanggil kehadirat Allah Swt di RS. Al-Islam Bandung pukul 17.00 dan sore itu juga jenazah dibawa ke rumah duka di Rancaekek. Ustadz Abqo, sosok murabbi, ustadz, guru, bapak yang semangatnya patut ditiru.
Saat di kelas dulu, aku merasa menjadi murid kesayangan beliau, padahal beliau tak pernah pilih kasih pada murid-muridnya. Kedekatanku pada beliau kurasakan begitu kuat saat beliau selalu memberikan semangat, petuah, dan nasihat di luar kelas secara pribadi. Saat masih duduk di kelas 2 Mu’allimien, beliau mengajakku ikut liqo bahtsul kutub mubahatsah tafsier di kediaman salah satu murid beliau di Leuwi Panjang.
Aku begitu terkesan, ketika bertemu dengan putra-putri beliau, seperti Ibu Nur dan Ust Dadang, keduanya pun ustadz2ku. Ternyata beliau sering menceritakan dan menyanjungku di depan keluarganya. “Hakim tuh sering bapak ceritain di rumah, murid paling cerdas di kelas, paling sopan, paling rapih…?.” Aku selalu jadi risi dibuatnya, malu. Padahal aku bukanlah yang terpandai di kelas, masih banyak teman-teman lain yang lebih cerdas dan pintar di kelas. Aku anggap sanjungan itu sebagai motivasi untukku agar lebih keras belajar pada waktu itu.
Selesai maghrib aku berangkat ke kediaman almarhum di Rancaekek. Saat tiba ratusan ikhwan fillah telah berkumpul disana. Ruangan tempat beliau dibaringkan hanya berukuran 6×6 meter persegi dan ini membuat antrian panjang di teras rumah almarhum menunggu antrian untuk menyolatkan beliau. Aku sendiri dapat bagian “kloter” ke-7 dengan jumlah jamaah setiap sholat berkisar 30-40 orang. Malam menjelang antrian ikhwah yang mau menyolatkan masih tampak terlihat. Aku pulang setelah tahu bahwa beliau akan dimakamkan keesokan paginya.
Jam menunjukkan jam 06.30, kijang pak haji menungguku di luar komplek pesantren. Aku bergegas karena tak mau ketinggalan saat prsosesi pemakaman Al-Ustadz. Sekitar jam 08.00 kami tiba di rumah duka. Jumlah jamaah yang hadir melebihi jumlah kemarin malam. Banyak teman-teman seangkatan yang hadir di sana. Ustadz-ustadz senior maupun ustadz2 muda juga terlihat. Air mata ini tak sanggup tertahan saat Ustadz Rustaman salah satu ustadz paling senior menangis dan berkata, “kita bukan hanya kehilangan guru tapi juga kehilangan sosok bapak….”
Aku tak tahan mendengar isakan itu dan air mata ini pun tak mampu kutahan. Kulangkahkan kaki menjauhi rumah duka itu menuju jalan disebelah utara. Tanpa kuduga ternyata jenazah mulai ditandu menuju tempatku berdiri. Aku bergegas berjalan dipinggir keranda itu. Ada enam sampai delapan orang yang mengusungnya termasuk Ustadz Igi salah satu ustadz senior. Aku tak kuasa ketika melihat Ustadz Igi tergopoh-gopoh menandu keranda itu, aku menawarkan untuk mengganti posisi beiau. beliau pun mengizinkan dan mulailah aku ikut menandu keranda itu di bagian sebelah kanan. Saat menandu, terbayang wajah teman-temanku, ustadz-ustadz muda, ratusan murid almarhum dibelakang sana sangat berharap untuk dapat ikut menandu keranda jenazah beliau, namun hanya aku yang mempunyai kesempatan untuk itu.
Secara sederhana prosesi pemakaman pun dimulai, para ikhwan fillah diminta mendo’akan almarhum sesuai dengan sabda Rasulullah Saw sebelum meninggalkan pemakaman. Berdo’a dalam hati masing-masing.
Allahumaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu’anhu waakrim nuzuulahu wawasi’ madkhalahu…

Entries (RSS)