Archive for June, 2006

Pertama dan satu-satunya di Indonesia…

Bagi kamu yang gemar tadarus, tilawah Al-Qur’an, kamu pasti memilih Quran Tajwid yang punya ciri atau warna-warni yang berbeda sesuai petunjuk dalam ilmu tajwid.

Qur’an Tajwid memang memudahkan kita membaca selain tartil dan tahsin tentu kita pun mengerti dan faham akan hukum-hukum bacaan yang kita tilawah.

Namun, seringkali kita perlu terjemah Al-Qur’an untuk mengkaji ayat demi ayat yang kita baca agar apa yang kita baca itu tidak hanya sekedar bacaan saja melainkan dapat menjadi petunjuk.

Dan kebanyakan Qur’an Tajwid yang ada tidak dilengkapi dengan terjemah. Dan itu cukup merepotkan kamu jika kamu harus punya Qur’an dua atau mencari dulu Al-Quran terjemah ketika kamu tadarus. Cukup berabe kan!?

Nah kini kamu ga’ usah repot… Karena udah ada Qur’an Tajwid yang dilengkapi dengan terjemahnya. Qur’an ini cetakan baru dari penerbit baru pula dan baru kali ini hadir di Indonesia…

Qttt_copy

Ukuran : 14 x 21 cm
Tebal : 902 halaman
Penerbit : Khairul Bayan
Harga : 125.000

Untuk kamu yang domisili di Bandung kamu bisa menghubungi/sms 0811-2255-820 (Hakim). Atau datang aja ke Pesantren Persatuan Islam 1 Bandung. Jln. Pajagalan 14-16.

Untuk pembelian satuan diskon 15%
Untuk toko buku dan penjual eceran pembelian di atas 10 eks diskon 30%

Comments No Comments »

Jam_abc_1

Coba kamu bayangkan… Di kamar kamu ada tiga jam dinding yang cukup besar (maruk amat… hehe). Yang jelas tiga jam itu semuanya sama dalam segi fisiknya, dari mulai ukuran, merek, hingga warna… Semua sama! Jam pertama yang berada paling kiri kita sebut saja jam A, jam yang di tengah kita sebut jam B, dan ketiga yang paling kanan kita sebut jam C.

Bagaimana pun juga, meski sama dalam hal fisiknya tiga jam itu tetep aja punya perbedaan. Jam A, dia normal, seperti halnya jam dinding lainnya yang berada di rumah tetangga kita, tidak kurang sedetik pun. Katakanlah saat ini jam A menunjukkan jam 12 tepat. Sedang jam B, dia kurang lima menit dari jam A, berarti saat ini dia menunjukkan jam 12 kurang lima menit atau 11:55. Dan jam C dia menunjukkan jam 12 tepat seperti jam A, tapi dia sama sekali tidak bergerak, tidak berdetak, alias… MATI…!!!

Jika kita harus memilih antara ketiga jam itu, tentu saja kita sepakat akan memilih jam A, karena dia jam yang normal. Tapi kalau pilihannya dibatasi, cuma ada dua pilihan, harus memilih jam B atau jam C dengan mengesampingkan jam A, mana yang akan kita pilih? Sekali lagi mungkin kita punya kesepakatan yang sama dalam memilih yaitu, kita akan memilih jam B, karena bagaimana pun jam B hidup (berdetak alias bergerak) meskipun dia kurang lima menit tapi yang penting dia hidup, bisa digunakan untuk melihat waktu.

Tetapi, jika sebelum memilih antara jam B atau C, kita diberi informasi bahwa antara kedua jam itu diadakan satu perlombaan, perlombaannya cukup sederhana, yaitu kita harus memilih antara kedua jam itu mana yang tercepat kembali sama dengan jam A pada jam 12 tepat. Tak peduli apakah samanya dengan bergerak atau tidak. Untuk memudahkan pilihan, jam B akan kembali sama dengan jam A tanpa kurang sedetik pun memerlukan waktu (kecepatan) selama, kurang lebih 60 jam atau empat hari enam malam. Sedang jam C, jam yang mati, dia tidak memerlukan waktu selama itu, dia hanya membutuhkan 12 jam atau satu hari saja untuk kembali sama dengan jam A. Jadi, siapa yang tercepat? Tentu saja jam C. Dan pilihan kita akan berubah, kita akan memilih jam C, karena dia tercepat, meskipun dia mati tapi dalam perlombaan itu dialah yang menjadi juara.

Kita telah berubah dalam memilih karena ada sesuatu yang mengharuskan kita berubah, kita tidak konsisten, kita tidak teguh dalam pendirian, kita tidak istiqamah. Hanya karena iming-iming menjadi juara lantas kita merubah pilihan, meskipun kita harus memilih mati (jam mati)

Jadi, “whats the point” Maksud dari tulisan ini…Apaaa?!?!?

Aku sendiri bingung…!?!?! Hehe….

Inspiration from U. Zaenudin, My logic teacher

Comments No Comments »

Pada suatu saat Rasulullah kembali mengingatkan, satarauna atsaratan, pada satu saat kalian akan mendapatkan… kalian akan melihat atsarah. Yang dimaksud atsarah adalah, sikap manusia yang lebih mementingkan sarana dan fasilitas hidup daripada tujuan hidup yang asal. Maka wajar apabila satu saat manusia akan melakukan berbagai macam cara asal bisa tercapai apa yang diharapkan.

Akibat daripada atsarah, mementingkan sarana dan fasilitas seperti yang diungkapkan oleh Rasulullah, bukan berarti melarang makan, bukan berarti melarang minum. Tetapi, kuluu wasyrabuu walaa tusrifuu, silahkan makan, silahkan minum tetapi awas! kalian jangan berlebihan. Dengan berlebihan dari batas-batas keperluan, satu saat akan terjadi pelanggaran-pelanggaran batas. Yang diungkapkan Rasulullah makan dan minum akan tetapi pada kenyataannya bukan hanya dari segi makan dan minum saja, hanya, ungkapan seperti ini sekedar mengungkapkan sesuatu yang pada umumnya, wasfun lillbayaani haalil ghaalibi.

Dengan berbagai macam alasan orang bisa tersimpangkan perhatiannya tapi ingatlah, innallahu ‘aliimun bidzaatis sudur, bahwa apa yang ada dalam hati, bagi orang lain bisa tersembunyi, bagi manusia bisa tersembunyi tapi bagi Allah apa hakikatnya yang tersembunyi itu.

Wajarlah apabila Imam Al-Bukhari beliau membuat satu kitab kumpulan daripada beberapa bab, kitabul hiyali, dalam arti adalah kumpulan hadits-hadits yang menerangkan tentang hailah (alasan), inilah yang diterangkan Rasulullah, la tartakibuu martakabatil yahuudu fatastahilu maharimallah biadnal hiyali, ingatlah kalian!, kalian jangan berperilaku seperti orang-orang Yahudi, nanti akibatnya kalian akan menghalalkan yang diharamkan Allah, biadnal hiyali, dengan alasan-alasan yang sangat rendah.

Oleh karena itu, perlu kiranya kembali kita tekankan disini fungsi dari Al-Hayaa`u, rasa malu…

Hakim Blogs at “MALU”

Comments No Comments »

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri,
maka Kami perintahkan kepada kaum muthraf di negeri itu (supaya menta’ati Allah)
tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu,
maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami),
kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
(Al-Israa` [17]:16)

“Waidznaa aradnaa an nuhlikal qaryata,” Apabila kami akan membinasakan satu negeri, “Amarnaa muthrafihaa,” Kami akan memperbanyak Kaum Muthrafnya.

Kaum Muthraf bukan kaum yang terbelakang tetapi Kaum Muthraf adalah orang-orang sudah maju dari segi sarana dan fasilitas hidupnya. Akan tetapi, ternyata… bertambah sarana… fasilitas hidup begitu mudah, bukan bertambah syukur tetapi bertambah kufur, bertambah musyrik.

Apabila Nabi Sulaiman a.s., menyatakan, “Liyabluwani a asykuru am akfuru,” Untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari akan ni’mat-Nya (An-Naml [27]:40). Tetapi pada satu saat bagi kaum muthraf, bukan yasykurun tetapi mereka lebih mendekati kepada yakfuruun. “Fadammarnaahaa tadmiraa,” Akibatnya kami akan membinasakan mereka sehancur-hancurnya.

Telah banyak bencana, musibah menimpa negeri kita. Namun, pantaslah kita masih berharap, semoga kita bukan termasuk Kaum Muthraf yang akan dihancurkan Allah sehancur-hancurnya. Dan semoga negeri kita bukan negeri yg Allah perbanyak Kaum Muthraf di dalamnya, Amien!

Comments No Comments »