Coba kamu bayangkan… Di kamar kamu ada tiga jam dinding yang cukup besar (maruk amat… hehe). Yang jelas tiga jam itu semuanya sama dalam segi fisiknya, dari mulai ukuran, merek, hingga warna… Semua sama! Jam pertama yang berada paling kiri kita sebut saja jam A, jam yang di tengah kita sebut jam B, dan ketiga yang paling kanan kita sebut jam C.
Bagaimana pun juga, meski sama dalam hal fisiknya tiga jam itu tetep aja punya perbedaan. Jam A, dia normal, seperti halnya jam dinding lainnya yang berada di rumah tetangga kita, tidak kurang sedetik pun. Katakanlah saat ini jam A menunjukkan jam 12 tepat. Sedang jam B, dia kurang lima menit dari jam A, berarti saat ini dia menunjukkan jam 12 kurang lima menit atau 11:55. Dan jam C dia menunjukkan jam 12 tepat seperti jam A, tapi dia sama sekali tidak bergerak, tidak berdetak, alias… MATI…!!!
Jika kita harus memilih antara ketiga jam itu, tentu saja kita sepakat akan memilih jam A, karena dia jam yang normal. Tapi kalau pilihannya dibatasi, cuma ada dua pilihan, harus memilih jam B atau jam C dengan mengesampingkan jam A, mana yang akan kita pilih? Sekali lagi mungkin kita punya kesepakatan yang sama dalam memilih yaitu, kita akan memilih jam B, karena bagaimana pun jam B hidup (berdetak alias bergerak) meskipun dia kurang lima menit tapi yang penting dia hidup, bisa digunakan untuk melihat waktu.
Tetapi, jika sebelum memilih antara jam B atau C, kita diberi informasi bahwa antara kedua jam itu diadakan satu perlombaan, perlombaannya cukup sederhana, yaitu kita harus memilih antara kedua jam itu mana yang tercepat kembali sama dengan jam A pada jam 12 tepat. Tak peduli apakah samanya dengan bergerak atau tidak. Untuk memudahkan pilihan, jam B akan kembali sama dengan jam A tanpa kurang sedetik pun memerlukan waktu (kecepatan) selama, kurang lebih 60 jam atau empat hari enam malam. Sedang jam C, jam yang mati, dia tidak memerlukan waktu selama itu, dia hanya membutuhkan 12 jam atau satu hari saja untuk kembali sama dengan jam A. Jadi, siapa yang tercepat? Tentu saja jam C. Dan pilihan kita akan berubah, kita akan memilih jam C, karena dia tercepat, meskipun dia mati tapi dalam perlombaan itu dialah yang menjadi juara.
Kita telah berubah dalam memilih karena ada sesuatu yang mengharuskan kita berubah, kita tidak konsisten, kita tidak teguh dalam pendirian, kita tidak istiqamah. Hanya karena iming-iming menjadi juara lantas kita merubah pilihan, meskipun kita harus memilih mati (jam mati)
Jadi, “whats the point” Maksud dari tulisan ini…Apaaa?!?!?
Aku sendiri bingung…!?!?! Hehe….
Inspiration from U. Zaenudin, My logic teacher

Entries (RSS)