Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri,
maka Kami perintahkan kepada kaum muthraf di negeri itu (supaya menta’ati Allah)
tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu,
maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami),
kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya. (Al-Israa` [17]:16)
“Waidznaa aradnaa an nuhlikal qaryata,” Apabila kami akan membinasakan satu negeri, “Amarnaa muthrafihaa,” Kami akan memperbanyak Kaum Muthrafnya.
Kaum Muthraf bukan kaum yang terbelakang tetapi Kaum Muthraf adalah orang-orang sudah maju dari segi sarana dan fasilitas hidupnya. Akan tetapi, ternyata… bertambah sarana… fasilitas hidup begitu mudah, bukan bertambah syukur tetapi bertambah kufur, bertambah musyrik.
Apabila Nabi Sulaiman a.s., menyatakan, “Liyabluwani a asykuru am akfuru,” Untuk menguji aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari akan ni’mat-Nya (An-Naml [27]:40). Tetapi pada satu saat bagi kaum muthraf, bukan yasykurun tetapi mereka lebih mendekati kepada yakfuruun. “Fadammarnaahaa tadmiraa,” Akibatnya kami akan membinasakan mereka sehancur-hancurnya.
Telah banyak bencana, musibah menimpa negeri kita. Namun, pantaslah kita masih berharap, semoga kita bukan termasuk Kaum Muthraf yang akan dihancurkan Allah sehancur-hancurnya. Dan semoga negeri kita bukan negeri yg Allah perbanyak Kaum Muthraf di dalamnya, Amien!

Entries (RSS)