Aku sudah cukup dewasa untuk mengatasi segala masalah yang menimpa, aku telah cukup banyak makan garam untuk menjaga segala tindak-tandukku, aku cukup ulet untuk mengerjakan segala sesuatu. Namun aku masih tetap kesulitan mencari kata yang tepat untuk menggambarkan isi hati. Tentang apa pun, tentang siapa pun. Kepada siapa aku harus belajar merangkai kata, membuat kumpulan huruf menjadi penuh makna.
Apa yang kurasakan bermula saat aku pulang dari sebuah kota nan dingin di timur Jawa Barat –Pangalengan– mengantarkan Ade, adikku kembali ke kota asalnya itu. Studi di kota kembang ini telah ia lalui, kini dia kuliah di kota kelahirannya itu. Tapi bukanlah Ade yang kupikirkan, yang terbayang di benakku adalah Robi adikku yang kecil, saat aku mengantar Ade pulang dia ikut menemani.
Walau Ibu dan Bapak Ade telah melarangku untuk langsung kembali ke Bandung malam itu, namun aku terpaksa pamit karena Robi ingin segera kembali ke kota kembang yang mulai mendapat tempat di hatinya. Di keremangan malam, mesin beroda dua terus kupacu, sementara Robi berada di belakangku.
Berbeda denganku, Robi… dia dilahirkan di Timur pulau Jawa, matanya yang besar dan indah selalu menaklukkan gejolak emosi yang kurasakan, senyum manisnya selalu menghempas gundah yang terpendam, keluguannya membuatku semakin menyayanginya melebihi rasa sayangku pada Ilasa, Ilasa… sosok makhluk lembut yang selalu menggoreskan luka di hati ini walau dia pernah kudambakan sebagai belahan jiwa yang selama ini kucari. Namun kini semuanya telah pudar seiring waktu dan belati kata dan laga yang selalu digoreskannya di hati.
Hampir setahun aku belum juga kembali ke Pangalengan untuk menjenguk Ade, Ibu, dan Bapak. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan baru sebagai penjaga sekaligus instruktur Lab Multi Media di tambah memberi les prifat ibu-ibu TK dengan mengajar Ilmu Nahwu, ngajar Ilmu Fiqh Terapan di Pesantren Ahad yang diselenggarakan IAPPI ’05, menjadi musa’id (guru Bantu) dengan mengajar Ulmul Quran di Pesantren dan jualan buku-buku Islam. Apalagi kini kegiatanku kembali bertambah, aku ikut pelatihan Jurnalistik di Icmi dan berhasil lolos seleksi Tahfiz Beasiswa di LTQ Jendela Hati, belum lagi orderan ketikan asatidz yang selalu menumpuk di meja komputerku.
Aku rindu Ade, Ibu, dan Bapak namun kerinduanku terobati dengan adanya Robi di sini. Aku sungguh menyayangi Robi melebihi rasa sayangku pada Ilasa. Robi telah menggantikan tempat Ilasa di hati ini, aku tahu Robi tidak menyadarinya tapi biarlah karena rasa sayangku ini tak memerlukan imbalan, karna rasa sayangku ini merupakan rasa cinta platonis-ku untuknya.
Aku terbaring sakit, setelah merasa sedikit baikan aku paksakan untuk terus bekerja. Banyaknya kegiatan dan masalah yang menjadi beban pikiran membuatku kembali terbaring. Saat itu tidak ada yang tahu kalau aku sakit, kecuali Robi.
Tidak terasa dia sudah kelas tiga sekarang. Aku teringat saat pertama dia menginjakkan kaki di sekolah ini, dia begitu lincah dan lucu… aah Robi. Dia memaksaku pergi ke dokter, aku paling malas ke dokter karena aku biasa mengobati sakitku dengan obat-obat warung dan itu terbukti manjur. Namun kali ini sakitku makin parah. Atas permintaan Robi aku terpaksa pergi ke dokter.
Aku mulai pulih, tapi aku masih manja pada Robi dengan minta dibelikan roti kesukaanku di Cake & Bakery shop Kartika Sari, namun yang datang malah roti dari toko sebelahnya, tapi karena Robi yang membelikan, roti itu tak jauh beda rasanya dengan roti buatan Kartika Sari, nikmat…
Liburan kemarin aku touring ke Pantai Pangandaran bersama Qashwa Motor Adventure Team. Kepenatan pikiran terobati dengan melihat kebesaran Allah di tepi pantai itu, aku teringat kisah Nabi Khidr yang memberi pelajaran pada Nabi Musa ketika seekor burung hinggap di perahu yang mereka tumpangi, burung itu meminum sedikit air dari lautan. Waktu itu Nabi Khidr menyatakan bahwa perbedaan ilmu Allah dan manusia seperti lautan dan air yang diminum burung itu. Ilmu Allah sebanyak air di lautan sementara ilmu manusia seperti air yang diminum burung itu. Masya Allah…! Namun mengapa manusia tetap saja menyombongkan diri?
Aku kembali dari Pangandaran dan mulai menghadapi berbagai kegiatan yang semakin bertambah dan menyita waktu. Aku tak ada waktu lagi untuk memberi perhatian lebih pada Robi. Dia mulai jauh dariku. Dua minggu sudah aku tak bertemu dengannya, sementara rasa rindu dan sayangku semakin bertambah… aku hampir melupakannya karena kesibukkan ini semakin bertambah.