Archive for July, 2006

Al-Hafidz Ust Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc tengah memberikan ceramah berupa nasihat pada para calon hufaz ketika aku dan adikku tiba di masjid At-Taqwa tempat kuliah perdana Tahfiz Beasiswa digelar. Setelah forum Tanya-jawab giliran Ust Abu Rabban, Lci memberikan tausiyah mengenai tahsin dan panduan praktis bagi para calon hufaz.

Saat yang ditunggu pun tiba, pengumuman kelulusan calon peserta tahfiz LTQ Jendela Hati dipandu oleh Al-Hafidz Ust Agus Subagio, namaku berada diurutan ke sembilan dari sembilan belas ikhwan yang diterima menjadi academia tahfiz sementara adikku diurutan ke sebelas. Al-Hamdulillah wa innalillah aku lulus menjadi peserta tahfiz, beban berat mulai kurasa, aku mesti pintar-pintar menjaga perilaku keseharianku, menjaga diri dari kemaksiyatan walau sekecil apapun. Semoga Allah memberi kemudahan dan semoga hati ini senantiasa ditetapkan dalam agama-Nya.

Bulan Agustus depan kuliah tahfiz akan dimulai dan semester pertama empat Juz merupakan target awal bagi para mahasiswa Thfiz LTQ Jendela Hati.

Do’akan aku ya fren…

Comments No Comments »

Ketika ada seseorang yang peduli terhadap kelompok kita dan ingin ikut memberi kontribusi terhadap kelangsungannya, apakah pantas kita mengatakan, “Kamu tuh bukan kelompok sini, kamu tidak tahu kondisi di sini! Kami lebih tahu keadaan kami” tapi tetap saja kelompok tersebut statis, jalan di tempat, tidak ada kemajuan.

Ketika tengah terjadi clash pada kelompok kita dan ada seseorang yang merupakan “mantan” kelompok yang ingin ikut membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi, apakah pantas kita mengatakan, “Kamu tidak tahu lagi keadaan kelompok sini, kamu tidak tahu kondisi di sini! Kami lebih tahu keadaan kami” tapi tetap saja kelompok tersebut statis, tidak mempunyai solusi atas permasalahan yang tengah mereka hadapi.

Ketika salah seorang anggota kelompok kita berbuat kesalahan dan ada seseorang “mantan” kelompok yang ingin ikut membantu meluruskan kesalahan, apakah pantas kita mengatakan, “Kamu tidak tahu lagi keadaan kelompok sini, kamu tidak tahu kondisi di sini! Kami lebih tahu keadaan kami” tapi tetap saja kelompok tersebut statis, tidak bisa meluruskan kesalahan anggotanya.

Ketika salah seorang anggota kelompok kita menjadi korban atas perbuatan anggota kelompok kita yang lain lalu ada seseorang yang asalnya bagian dari kelompok hanya tidak sering bersama-sama, apakah pantas kita mengatakan, “Kamu tuh jarang di sini, kamu tidak tahu kondisi di sini! Kami lebih tahu keadaan kami” tapi tetap saja kelompok tersebut statis, tidak bisa melindungi hak anggotanya dan meluruskan kesalahan anggotanya.

Ketika seseorang peduli terhadap kita dan ingin ikut membantu sebisa mungkin yang dia mampu, apakah pantas kita mengatakan, “Aku nggak butuh bantuan kamu, kontribusi kamu payah” walau sebenarnya kontribusinya tidak begitu jelek seperti yang dipikirkan. Dan tetap saja keadaan kita statis.

Sampai kapan kestatisan itu kita pertahankan?

Comments No Comments »

Hari ini pendaftaran calon akademia audisi ditutup. Adikku telah mendaftar beberapa hari yang lalu, sementara aku baru mendapat informasinya pagi ini, jelaslah aku belum mendaftar. Aku ingin ikut audisi untuk menambah wawasan dan ilmu tentunya, di tambah aku tak mampu murajaah sendirian. Aku tidak mau begitu saja menyerah, aku coba hubungi pihak panitia melalui telpon, dan Al-hamdulillah mereka masih membuka pendaftaran sampai ba’da Jum’at. Akhirnya aku menjadi peserta akademia dan sore itu juga aku mengikuti audisi.

Calon akademia cukup banyak, semuanya berjumlah seratus empat puluh orang, ikhwan-akhwat – laki-perempuan – dari seratus empat puluh orang tersebut pihak panitia hanya akan menerima akademia sejumlah empat puluh orang saja – dua puluh ikhwan dan dua puluh akhwat – berarti seratus orang lainnya akan tereliminasi dan dipulangkan kembali, dengan kata lain meraka tidak diterima menjadi akademia Tahfizh.

Audisi Tahfizh Beasiswa LTQ-Jendela Hati tersebut untuk menyaring akademia ikhwan-akhwat yang mempunyai kesungguhan menjadi Tahfizh dan Tahfizhah Al-Qur’an Al-Karim, program utama Tahfizh kali ini ini mempunyai target “2008 Tahfizh” berarti ada waktu dua tahun untuk berusaha semaksimal mungkin.

Audisi di mulai jam dua sore, juri atau penyeleksi audisi dibagi delapan, empat untuk ikhwan dan empat untuk akhwat dan semua penyeleksi bergelar Al-Hafidz dan Al-Hafidzah yang berarti mereka telah hafal Al-Qur’an 30 juz, masya Allah…! Semangatku bangkit untuk menjadi Al-Hafidz.

Para audisioner rata-rata berusia belia, mereka yang baru lulus SMU, yang masih kuliah. Namun tidak sedikit mereka yang sebaya denganku, bahkan lebih, ada yang baru melepas lajang, yang baru punya momongan, bahkan ada yang sudah mempunyai dua putra.

Aku menjadi audisioner kelima sementara adikku audisioner ketujuh. Syarat-syarat diterimanya akademia minimal telah hafizh satu juz, tahsin dalam membaca Al-Qur’an dan syarat lainnya ditentukan dalam test nanti. Al-Hafidz Ust Agus Subagio menjadi penyeleksiku waktu itu. Dan Al-Hamdulillah aku telah melewati tahaf seleksi.

Pengumuman kelulusannya besok pagi sekaligus kuliah perdana yang akan diisi oleh Ustadz. Abdul Aziz Abdul Rauf, Lc penulis buku Kiat Sukses Menjadi Hafizh Qur’an Da’iyah dan Ustadz. Abu Rabbani, Lc direktur LTQ-Jendela Hati sekaligus pengajar Tahsin.

Besok pagi… Pengumuman kelulusan Akademia Tahfizh, aku tunggu…!

Semoga Allah menjadikan hati ini terang dengan Al-Quran, lepas dari rasa ujub, riya, sombong, iri, dan dengki… Amien!

Comments No Comments »

Badai
Kamis sore, (20 Juli 2006) saat rapat dewan tertinggi berakhir hujan pun turun begitu lebatnya, angin bagaikan induk yang kehilangan anaknya, dia menyambar apapun yang menghalangi perjalanan pencarian anaknya, terbukti… deretan pohon mahoni di depan kampus putih ini tak kuasa mempertahankan regenarasi dahan-dahan kokoh penghasil daun dan buah berasa pahit itu, dia terpaksa melepaskan regenerasi karena desakan sang angin yang tak memberinya kesempatan. Begitupun Kios Wartel dekat Gedung Gerbang Utara terjungkal tak berdaya.

Hujan disertai angin kencang mengguyur kota Bandung tercinta di awal musim ini. Kilat, petir, dan angin saling berlomba memperlihatkan ketangguhannya. Kilau cahaya itu, membuat kudukku berdiri sedang kepalaku tertunduk. Suara yang menggelepar itu membuatku tak henti berucap istighfar memohon ampunan-nya, dan tiupan keras itu membuat lidahku melantunkan asma serta memuji kekuasaan Ilahi Rabbi…

Saat hujan, angin, kilat, dan petir saling bercanda karna rindu lama tak bersua, tiba-tiba jaringan internet di ruangan ini mati, sama sekali! Rupanya kejantanan sang kilat meluluhkan pemancar yang berada di ketinggian 32 meter di atas permukaan tanah Gedung Barat PPI 1-2. Jaringan ke service provider pun terputus selama lebih dari sepekan. Kami kehilangan kontak dengan rekan-rekan di dunia maya….

Namun, Al-Hamdulillah sekarang semuanya telah kembali normal… yang aku sadari saat ini adalah… tak ada yang bisa melawan kekuasaan Allah Swt… sekecil apa pun itu… secanggih apa pun itu…

Allahu Al-Aziez… Astaghfiruka… Wa Tsabbit Qalbi ‘Ala Diinika…

Comments No Comments »