Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Al-Hamdulillah, teteh telah melahirkan anak ketiganya dengan normal dan selamat. Syabiq Abdi Muttaqien, begitu kakak iparku memberi nama bayi mungil yang tampan itu. Seorang mujahid baru telah lahir. Bisikku.
Rumah Sakit Bersalin (RSB) tempat teteh melahirkan ini terbilang cukup indah dan asri meski untuk kalangan menengah ke bawah.
Di tengah haru-biru kebahagianku, tiba-tiba suara ribut-ribut di tengah malam itu mengejutkan seisi ruangan yang berukuran 4×4 ini.
Suara ribut itu semakin keras terdengar. Suara seorang perempuan muda denga perut besarnya menjerit-jerit kesakitan. Dia baru saja sampai RSB ini. Dia hanya diantar perempuan tua yang belakangan aku tahu adalah ibunya. Kemana suaminya, pikirku.
Teteh memaksakan diri bangkit, ingin melihat siapa perempuan muda itu. “Ya Allah… itu Ukhti Matsna…!” setengah menjerit teteh merangkul suaminya. Pihak RSB tidak mau menerima karena ketubannya telah pecah sejak tadi pagi. Baru tengah malam seperti ini dia dibawa ke RSB? Melahirkan secara normal sangat sulit sekali, selain membahayakan janin juga membahayakan sang ibu. Pihak RSB hanya memberikan rujukan agar dibawa ke rumah sakit besar untuk dilakukan operasi cesar. Sementara suara jeritan ukhti Matsna masih terdengar memanggil-manggil ibunya.
Aku tau siapa ukhti Matsna. Dia seorang Mujahidah teman dekat teteh. Dia rela menjadi istri kedua seorang anggota dewan untuk membahagiakan ibunya.
Jeritan ukhti Matsna semakin keras, sementara kendaraan untuk membawa dia ke rumah sakit belum juga datang. Aku miris sekali mendengarnya, apalagi ketika aku tau bahwa suaminya saat itu tidak ada. Tanpa sadar emosiku meninggi, dengan mata berkaca-kaca aku berteriak-teriak, “Brengsek… mana suaminya? Mestinya dia ada disini…!!! dampingi istrinya…!!! apalagi saat mau melahirkan anak pertama…!!!”
Emosiku semakin meninggi saat aku tau, suami ukhti Matsna tidak ada karena memang dia telah lama “menelantarkannya,” karena ancaman istri pertama. “Syetan…” geramku. Aku paling tak tahan melihat seorang perempuan menderita, apalagi dia sahabat dekat tetehku.
Kendaraan sudah tiba, ukhti Matsna segera diberangkatkan ke RS Besar. Kendaraan itu perlahan meninggalkan aku yang masih berdiri menatapnya lalu menghilang ditelan gelapnya malam.
Tiga hari telah berlalu, aku tak bisa berbuat apa-apa untuk membantu ukhti Matsna, hanya do’a saja yang senantiasa kupanjatkan. Semoga suaminya diberi kesadaran oleh Allah dan semoga ukhti Matsna senantiasa dalam lindungan Allah.
Kabar terakhir yang kudengar ukhti Matsna telah melahirkan dengan cara cesar dan alhamdulillah selamat. Semua pembiayaan ditanggung suaminya.
Bukan hanya nafkah lahir yang perlu dicukupi melainkan nafkah batin yang lebih penting.
Ukhti, perjalanan masih jauh… ini hanya bagian dari alur perjuangan. Ini merupakan salah satu diantara ujian-Nya. Tetap mantapkan niat, bulatkan tekad, dan kokohkan kesabaran.
Jannah yang dijanjikan sangat merindukan kamu ukht…
(From true story-Awal Agustus)