Jam 08:45 aku dan kang Anshor tiba di GSG Salman ITB, ada waktu 15 menit untuk istirahat, menyiapkan segala sesuatunya untuk mengikuti seminar kali ini. Sabtu pagi yang cukup cerah, 28 derajat celcius biasanya suhu udara naik sampai 37 derajat pada siang menjelang sore nanti. Pertengahan September ini Bandung masih cukup adem-ayem walau sedikit agak panas.
Hari ini aku dapat tugas dari Pak DKM untuk menghadiri undangan Seminar Teknologi Tata Suara Masjid diselenggarakan LWZ Salman ITB. Tentu saja segala sesuatunya ditanggung; dari mulai uang bensin, transfort, makan, dsbnya. Ternyata hidup ini memang indah ya… hehe, dapet ilmu, biaya ditanggung…! Tapi tentu saja tugasku tidak mudah. Beres seminar, aku harus mempresentasikan kembali ilmu yang kudapat didepan para staf, termasuk Pak Ketu.
Pembicara pertama, Prof. Dr. Ir. R. M. Soegijanto, beliau selaku Guru Besar Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung sekaligus Pakar Akustik dan Fisika Bangunan. Penjelasan pertama beliau melalui slide show power point itu mengenai teori dasar fisika dari suara, peristiwa refleksi, absorbsi, dan transmisi. Selanjutnya beliau menjelaskan tentang skala desibel (dB) dan bahwa tekanan suara yang dapat didengar manusia mempunyai rentang yang sangat besar, satu berbanding satu juta yang kemudian dipersempit rentangnya dengan menggunakan besaran tingkat tekanan suara, Lp dB, 0 dB merupakan ambang pendengaran dan 120 hingga 130 dB merupakan ambang sakit. Kemudian beliau menuliskan suatu rumusan, Lp = 10 LOG P2 / po2 dB.
Dasar fisikaku memang lemah, jadi tidak semua penjelasan sang Prof dapat kupahami. Selanjutnya beliau menerangkan tentang peristiwa refleksi, absorbsi, dan transmisi, dimana suara yang datang membentur dinding, ada yang direfleksikan ada juga yang bertransmisi, sehingga beliau kembali memperlihatkan sebuah rumus bahwa R = Koefisien refleksi = Daya suara releksi : Daya suara datang, dan α = Koefisiensi Absorbsi, ґ = Koefisiensi Transmisi, jadi r + α + ґ = 1. Makin pusing aja kepalaku deh, tapi aku manggut-manggut aja entah pertanda paham atau malah ngantuk. Hehe.
Porous merupakan bahan penyerap suara, bisa dari panel absorbsi atau pun resonator, begitu beliau menerangkan, dan koefisiensi absorbsi suara α untuk bahan tertentu tidak sama untuk setiap frekuensi α (f), lalu beliau memperlihatkan contoh-contoh penyerap suara, masih melalui slide show.
Yang pasti, sedikit banyaknya penjelasan sang Prof cukup membuatku mengerti bagaimana seharusnya masjid kami menata sound, tingkat absorbsi, refleksi serta frekuensi yang seharusnya memiliki ukuran tersendiri untuk menghasilkan suara yang nyaman terdengar. Berapa dB frekuensi suara dari depan hingga minimal jama’ah yang berada paling belakang masih mendapat suara sekitar 10-20 dB. Ditambah penjelasan beliau mengenai contoh diagram sistem tata suara masjid serta penempatan loud speaker secara terdistribusi.
Memasuki sesion tanya jawab, aku baru tersadar bahwa para peserta bukan saja dari wilayah Bandung, namun DKI Jakarta dengan perwakilan masjid Istiqlalnya, Islamic Center Bekasi, Universitas Lampung Ambon, Jawa Tengah, Masjid Raya Ciamis, Masjid Raya Tasik, Cigondewah, Cijerah… dll. Masjid-masjid raya Bandung tentu saja tidak mau ketinggalan dn banyak mendominasi peserta seminar teknologi tata suara masjid yang diselenggarakn LWZ Salman ITB ini.
Pertanyaan terbanyak bukan dari segi tata suara itu sendiri melainkan dari segi arsitektur bangunan yang mau tidak mau memang mempengaruhi output sumber suara yang terdengar. Sehingga peserta seminar digiring pada asumsi menyalahkan para arsitektur bangunan masjid. Seorang peserta seminar yang ternyata seorang ahli arsitektur merasa tersudutkan hingga ia pun tampil ke depan mengusulkan pada dekan ITB untuk menambah SKS pada jurusan arsitektur untuk memasukkan kuliah akustik tata suara pada rancang bangun.
Setelah coffe break dan makan siang, tepat jam 13.00 pembicara kedua, Febri Nurhidayat, ST dan team memaparkan presentasinya dengan tema, “Optimalisasi Tata Suara Ruangan Dalam Masjid Menggunakan Teknik Auralisasi.” Setelah panjang lebar menjelaskan mengenai teknik ini, lantas kang Febri memperlihatkan data studi kasus yang membuat laki-laki kelahiran tatar pasundan ini mendapatkan gelar ST-nya. Objek studi kasus tersebut tidak lain adalah masjid Salman ITB sendiri, dimana dia mengukur distribusi tingkat tekanan suara, titik frekuensi (Hz) dari berbagai titik sudut masjid Salman. Kemudian memberikan parameter simulasi terhadap waktu dengung (SabT), ITDG (Initial Time Delay Gap), SPL (Sound Pressure Level), Intelligibility (D50), LEF (Lateral Energy Fraction), RASTI (Rapid Speech Tranmission Index). Terakhir beliau memperdengarkan hasil auralisasinya terhadap masjid Salman dan mengemukakan kesimpulan dan saran untuk masjid Salman pada waktu itu.
Al-Hamdulillah beres juga seminar hari ini, tiba saatnya memikirkan serta mempresentasikan kembali materi seminar untuk perbaikan tata suara dimasjid kami, walau membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, waman yattaqillah yaj’al lahu min amrihi yusran, Insya Allah, Amien!
Hakim
GSG Salman ITB (160906)