Archive for September, 2006

Rencananya sepuluh hari tarawih
berjama’ah di masjid, sepuluh hari kedua di rumah, dan sepuluh hari terakhir
sambil I’tikaf. Rencana tinggal rencana, baru dua kali tarawih ga bisa
berjamaah di masjid gara-gara kecelakaan kemarin.

Padahal luka-luka di kaki udah ampir kering dan sembuh,
hanya paginya aku paksakan mandi karena udah 2 hari sejak kecelakaan itu ga
mandi (bau sih). Eh ternyata akibat mandi itu, luka-luka yang ampir kering,
basah lagi, perih… ga bisa bergerak shalat dengan sempurna seperti biasa. Terpaksa
tarawih di rumah, sedih juga…

Comments No Comments »

Vale
Selepas maghrib, dengan mengendarai vespa antiq aku meluncur
pulang dari Je-Ha KPAD tempatku talaqqi pada ustadz Assub. Malam mulai gelap,
gerimis mengiringi desiran angin yang menampar wajahku. Kecepatan normal
biasanya antara 60-80km per jam, namun karena kondisi jalan yang licin, 30-50km
per jam rasanya cukup, untuk menjaga keselamatan pribadi juga orang lain. So
bijak ceritanya… hehe33x.

Dari Setiabudi aku ambil jalur kiri karena jalur ke kanan
-arah Sukajadi- memang porbiden alias ga boleh masuk. Menyusuri jalan Cihampelas,
seperti biasa, kendaraan merayap karena macet. Meskipun malam jum’at Ciwalk
tetep rame pengunjung. Aku ga mau lirik kanan-kiri, fokus ke depan, bukan apa2…
tapi ABG2 disana membuat mataku kelilipan, nambah dosa saja.

Masuk Cicendo, aku ambil jalur kiri ke arah Stasion
Timur agar mudah belok menuju Perintis Kemerdekaan (Viaduct) lalu masuk Braga… lagian jalur kanan
arah ke Pasir Kaliki biasanya macet cukup parah.

Gerimis tak berhenti, jalan semakin licin, sedangkan lampu
depan tak berfungsi dengan baik. Belokan tajam Stasion Timur membuatku waspada,
dengan kecepatan 40km aku menikung tajam layaknya Valentino Rossi melewati
tikungan terakhir sirkuit Sepang-Malaysia saat menjuarai MotoGP kemarin, keren
dikit… tapi…

Ban belakang vespa tak bisa kukendalikan karena licin, entah
kenapa tiba-tiba setir agak sulit aku belokkan, rem membuat ban belakang
semakin oleng tak terkendali dan akhirnya… vespa terguling dan terjungkir ke kanan
menyusuri aspal basah, secara reflek, aku lepas kemudi, berguling-guling di atas
aspal…

Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun…

Mudah-mudahan musibah ini menjadi penggugur dosa-dosa kecilku…
Amien!

Dari kecelakaan ini ada suatu pelajaran, ternyata Vale dan aku punya persamaan dan perbedaan, hanya… perbedaannya terlalu mencolok. Vale jadi juara dan dapat piala, sedang aku… Hanya dapat luka… ugh

Comments No Comments »

Jam 08:45 aku dan kang Anshor tiba di GSG Salman ITB, ada waktu 15 menit untuk istirahat, menyiapkan segala sesuatunya untuk mengikuti seminar kali ini. Sabtu pagi yang cukup cerah, 28 derajat celcius biasanya suhu udara naik sampai 37 derajat pada siang menjelang sore nanti. Pertengahan September ini Bandung masih cukup adem-ayem walau sedikit agak panas.

Hari ini aku dapat tugas dari Pak DKM untuk menghadiri undangan Seminar Teknologi Tata Suara Masjid diselenggarakan LWZ Salman ITB. Tentu saja segala sesuatunya ditanggung; dari mulai uang bensin, transfort, makan, dsbnya. Ternyata hidup ini memang indah ya… hehe, dapet ilmu, biaya ditanggung…! Tapi tentu saja tugasku tidak mudah. Beres seminar, aku harus mempresentasikan kembali ilmu yang kudapat didepan para staf, termasuk Pak Ketu.

Pembicara pertama, Prof. Dr. Ir. R. M. Soegijanto, beliau selaku Guru Besar Teknik Fisika Institut Teknologi Bandung sekaligus Pakar Akustik dan Fisika Bangunan. Penjelasan pertama beliau melalui slide show power point itu mengenai teori dasar fisika dari suara, peristiwa refleksi, absorbsi, dan transmisi. Selanjutnya beliau menjelaskan tentang skala desibel (dB) dan bahwa tekanan suara yang dapat didengar manusia mempunyai rentang yang sangat besar, satu berbanding satu juta yang kemudian dipersempit rentangnya dengan menggunakan besaran tingkat tekanan suara, Lp dB, 0 dB merupakan ambang pendengaran dan 120 hingga 130 dB merupakan ambang sakit. Kemudian beliau menuliskan suatu rumusan, Lp = 10 LOG P2 / po2 dB.

Dasar fisikaku memang lemah, jadi tidak semua penjelasan sang Prof dapat kupahami. Selanjutnya beliau menerangkan tentang peristiwa refleksi, absorbsi, dan transmisi, dimana suara yang datang membentur dinding, ada yang direfleksikan ada juga yang bertransmisi, sehingga beliau kembali memperlihatkan sebuah rumus bahwa R = Koefisien refleksi = Daya suara releksi : Daya suara datang, dan α = Koefisiensi Absorbsi, ґ = Koefisiensi Transmisi, jadi r + α + ґ = 1. Makin pusing aja kepalaku deh, tapi aku manggut-manggut aja entah pertanda paham atau malah ngantuk. Hehe.

Porous merupakan bahan penyerap suara, bisa dari panel absorbsi atau pun resonator, begitu beliau menerangkan, dan koefisiensi absorbsi suara α untuk bahan tertentu tidak sama untuk setiap frekuensi α (f), lalu beliau memperlihatkan contoh-contoh penyerap suara, masih melalui slide show.

Yang pasti, sedikit banyaknya penjelasan sang Prof cukup membuatku mengerti bagaimana seharusnya masjid kami menata sound, tingkat absorbsi, refleksi serta frekuensi yang seharusnya memiliki ukuran tersendiri untuk menghasilkan suara yang nyaman terdengar. Berapa dB frekuensi suara dari depan hingga minimal jama’ah yang berada paling belakang masih mendapat suara sekitar 10-20 dB. Ditambah penjelasan beliau mengenai contoh diagram sistem tata suara masjid serta penempatan loud speaker secara terdistribusi.

Memasuki sesion tanya jawab, aku baru tersadar bahwa para peserta bukan saja dari wilayah Bandung, namun DKI Jakarta dengan perwakilan masjid Istiqlalnya, Islamic Center Bekasi, Universitas Lampung Ambon, Jawa Tengah, Masjid Raya Ciamis, Masjid Raya Tasik, Cigondewah, Cijerah… dll. Masjid-masjid raya Bandung tentu saja tidak mau ketinggalan dn banyak mendominasi peserta seminar teknologi tata suara masjid yang diselenggarakn LWZ Salman ITB ini.

Pertanyaan terbanyak bukan dari segi tata suara itu sendiri melainkan dari segi arsitektur bangunan yang mau tidak mau memang mempengaruhi output sumber suara yang terdengar. Sehingga peserta seminar digiring pada asumsi menyalahkan para arsitektur bangunan masjid. Seorang peserta seminar yang ternyata seorang ahli arsitektur merasa tersudutkan hingga ia pun tampil ke depan mengusulkan pada dekan ITB untuk menambah SKS pada jurusan arsitektur untuk memasukkan kuliah akustik tata suara pada rancang bangun.

Setelah coffe break dan makan siang, tepat jam 13.00 pembicara kedua, Febri Nurhidayat, ST dan team memaparkan presentasinya dengan tema, “Optimalisasi Tata Suara Ruangan Dalam Masjid Menggunakan Teknik Auralisasi.” Setelah panjang lebar menjelaskan mengenai teknik ini, lantas kang Febri memperlihatkan data studi kasus yang membuat laki-laki kelahiran tatar pasundan ini mendapatkan gelar ST-nya. Objek studi kasus tersebut tidak lain adalah masjid Salman ITB sendiri, dimana dia mengukur distribusi tingkat tekanan suara, titik frekuensi (Hz) dari berbagai titik sudut masjid Salman. Kemudian memberikan parameter simulasi terhadap waktu dengung (SabT), ITDG (Initial Time Delay Gap), SPL (Sound Pressure Level), Intelligibility (D50), LEF (Lateral Energy Fraction), RASTI (Rapid Speech Tranmission Index). Terakhir beliau memperdengarkan hasil auralisasinya terhadap masjid Salman dan mengemukakan kesimpulan dan saran untuk masjid Salman pada waktu itu.

Al-Hamdulillah beres juga seminar hari ini, tiba saatnya memikirkan serta mempresentasikan kembali materi seminar untuk perbaikan tata suara dimasjid kami, walau membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, waman yattaqillah yaj’al lahu min amrihi yusran, Insya Allah, Amien!

Hakim
GSG Salman ITB (160906)

Comments No Comments »

Walaaah… draft program Ramadhan belum juga kelar, batas waktu akhirnya senin besok lusa, berarti dua hari lagi… padahal dua hari begadang, ngerjain pagi, siang atau sore, nggak bisa! Selain kerja, aku mesti komit pada jadwal yang udah tertera, sedikit waktu kosong paling buat istirahat dan buka friendster… atau berkunjung ke Myquran… Hehe

Dah ah… kerja dulu, ntar sore mungkin bisa aku prioritaskan… ugh

keteteran juga degh…

Comments No Comments »