Archive for November, 2006

Ada saat dimana kita ingin sendiri
Ada saat dimana kita tak ingin diganggu
Ada saat dimana pikiran kita tengah penat
Ada saat dimana hati kita sedang tertutup

Ada saat dimana kita ingin melepaskan kekesalan
Ada saat dimana kita ingin membiarkan emosi kita terlepas
Ada saat dimana kita ingin tertawa puas
Ada saat dimana kita ingin berteriak

Namun semua itu kadang tak bisa terlampiaskan
Namun semua itu kadang tak mampu tersalurkan
Karena keberadaan kita ditengah mereka yang kita kasihi
Karena keberadaan kita sebagai salah satu “figur”

Namun kadang kita tak sadar telah melepaskan semua itu
Namun kadang kita tak sadar telah membuat semua tersakiti
Karena kekhilapan kita sebagai manusia
Karena keangkuhan kita yang tak menyadari kesalahan

***********

Dua minggu ini kuakui saat-saat galau menyelimuti diri. Entah apa yang menghinggapi hati hingga membuatnya kesal. Aku hanya ingin sendiri, aku tak ingin diganggu, aku tengah penat, hatiku tertutup untuk membantu. Sedikit-sedikit kulepaskan emosi dan kekesalan… dan aku tertawa… aku puas… aku merasa menjadi seorang yang tegas, keras, sedikit kejam dan jahat… tidak mempedulikan perasaan orang lain… namun, aku merasa puas… inilah point pertama tentang keangkuhaku. Semoga aku dimaafkan dan diampuni.

Ok, kita buat satu rumus 5w 1H seperti halnya teori jurnalistik yang dulu kupelahari. Sebenarnya apa sumber dibalik semua ini…?

What, Apa yang terjadi?
Pertama, aku kesal pada dewan yg membuat kebijakan sendiri di yayasan satu, aku kesal pada mereka yang hanya melihat keburukanku dan rekan-rekan yang ikut mengurus sub dewan, aku kesal pada mereka yang sok ikut campur dalam masalah sub dewan yang kami urus, aku penat terhadap kontitusi yang hanya sekedar teori, aku kesal pada koruptor di yayasan ini walau sudah tercium bau tikus got tapi dewan tertinggi tetap membiarkan, aku kesal pada bagian logistik yang tiap hari hanya menyediakan makan siang tak bergizi, hanya membuat nafsu makan kami semakin turun. Aku kesal program ku yang disetujui pada rapat di yayasan dua tak pernah direalisasikan, walau itu untuk kebaikan anggotanya bukan untuk kemakmuran aku, toh aku tidak mendapat royalti akan program yang kususun hingga membuat waktuku tersita karenanya. Kedua, aku iba melihat kondisi generasi yang lebih down dari diriku, baik secara mental, moral, maupun sosial. Ketiga, aku merasa tak dihargai, bukannya aku mengharapkan penghargaan dari mereka, namun jasaku dan rekan lain terkubur dengan nila setitik. Keempat, imageku sudah sedikit pudar, dan secepatnya harus kubenahi… mode jaim harus kembali ON… hehe. Terakhir… hafalanku tidak bertambah… malah aku sibuk merapikan hafalan yang dulu… tercecer… ugh.

Why, kenapa itu bisa terjadi?
Pertama, tidak ada kejelasan dan ketegasan dewan tertinggi mengenai masalah-masalah yayasan satu. Kedua, di yayasan dua, senioritas terlalu angkuh untuk menjalankan program yg telah fik pada rapat. Dan terakhir, aku merasa down saat itu… keimananku semakin hari kian turun, dan itu membuatku kesal, apa yg tengah terjadi padaku?

When, kapan hal itu terjadi?
Pertama, masalah dewan pada yayasan satu dan dua beserta ecek-eceknya sudah lama terjadi, seperti menunggu api dalam sekam… tidak lama aku rasa… api akan keluar dari sekam, dan mereka akan menerima imbas kesalahan yang terus dibiarkan itu. Kedua, sebulan ini aku tengah yanqushu… menurun… aku teringat nasihat kang Anshor, al-imanu yazidu bitho’at wa yanqushu bima’shiyat, keimanan itu bertambah dengan ketha’atan dan berkurang dengan kemaksiyatan. Aku sadar keimananku semakin menurun karena kemaksiyatan yg kulakukan, aku membiarkan hal-hal yang mubah (boleh dilakukan) memperdayakanku. Hal-hal yang haram memang mudah kujauhi tapi hal-hal yang bersifat mubah yang akhirnya melalaikan sangat sulit kutinggalkan. Nasihat kang Anshor lagi terngiang dibenakku, kim, ingat! Muslim yang baik itu tarquhu malaa ya`nihi, muslim yang baik itu mereka yang mampu meninggalkan hal-hal yang mubah, yang dibolehkan namun tidak bermanfaat baginya.

Who, siapa dewan-dewan itu?
Tidak etis aku sebutkan disini. Namun yang jelas “who” disana yang merasa dirugikan adalah aku dan rekan-rekan seperjuangan disini.

Where, dimana?
Di dua yayasan. Pertama, yayasan tempat aku mendedikasikan segala kemampuan. Kedua, yayasan keorganisasian tempat aku tumbuh, tempat aku belajar hidup bersosialisasi dengan komunitas heterogen. Dan terakhir di dalam diri sendiri, secara intern aku tengah mengalami selfing clash.

How, bagaimana?
Bagaimana untuk mengatasi semua ini…? Aku harus tunjukkan diriku dihadapan dewan, kami harus menunjukkan diri didepan mata dewan, walau kadang itu percuma. Bagaimana untuk mengatasi kemunduran image… aku harus kembali bersikap tegas, sedikit kejam bila diperlukan… selfing clash…? Aku harus kembali mendidik diri dan keimanan ini dengan ketha’atan… Insya Allah.

Akhir dari semua itu… aku ingin menyendiri dulu, aku ingin berintrofeksi dulu, aku ingin mengatur staretegi jitu… dan untuk mereka yang tak sengaja tersakiti, aku mohon maaf.

Comments No Comments »

Tidak kita pungkiri bahwa seiring berkembangnya kebutuhan, seiring cepatnya mobilitas kehidupan banyak kita jumpai orang-orang disekitar kita yang tidak sanggup bertahan menghadapi kegagalan-kegagalan yang terjadi dalam kehidupannya, bahkan tak luput mereka yang berhasil pun terkadang hanyut, menjadi jumawa, arogan, dan akhirnya… paranoid, ketakutan hartanya hilang atau dimiliki orang lain. Imbasnya harta yang dia miliki bukan menjadi abdinya untuk lebih bersyukur dan meningkatkan mobilitas ibadah serta berbagi dengan sesama, namun sebaliknya dia menjadi hamba hartanya.

Orang-orang yg gagal, tertimpa musibah, tak mampu bersabar lantas keluh kesah pun menjadi semacam “obat” penawar kegelisahannya, walau itu tak membuatnya merubah keadaan menjadi lebih baik. Malah sebaliknya, membuat dia semakin tenggelam dalam kegagalan. Lalu timbulah penyakit dan masalah baru dalam dirinya, “stres”.

Kegagalan tersebut kita sebut sebagai musibah/ujian. Disamping itu jika kita perhatikan ternyata musibah terbesar adalah musibah yang sebenarnya tidak kita sadari itu sebagai musibah. Keberhasilan dalam kehidupan berupa berlimpahnya harta dunia kadang tidak kita sadari bahwa hal tersebut merupakan musibah terbesar. Kenapa disebut musibah atau ujian terbesar? Karena orang yang mengalaminya kadang tidak merasakan bahwa dirinya tengah diuji oleh Allah. Kadang orang yg berhasil dalam kehidupannya menjadi lupa bahwa apa yang dia dapatkan kini merupakan anugerah dari Allah sebagai wasail untuk mencapai maqasid, sebagai jalan untuk mencapai tujuan. Tujuan kita sebagai manusia yang diciptakan Allah tidak lain hanya untuk beribadah. Itulah maqosid kita “beribadah”. Adapun hal-hal lain yang bersifat duniawi sebagi wasail/jalan agar maqasid menjadi mudah kita laksanakan.

QS. Al-Ma’arij [70] :19-35. Merupakan satu sub judul mengenai “Ajaran Islam untuk mengatasi sifat-sifat yang jelek pada manusia”

Para ahli mengatakan bahwa diantara penyebab stres adalah tidak menerima keadaan/takdir yang terjadi pada dirinya (sifat keluh-kesah) dan sifat paranoid/ketakutan hartanya dimiliki orang lain (kikir).

AlQuran menyebutkan hal itu merupakan sifat dasar manusia (Qs.70:19-21), namun walau begitu sifat tersebut dapat diatasi, dan AlQuran sendiri langsung menyebutkan terapi-terapi untuk mengatasi penyebab stres tersebut.

Terapi untuk mengatasi sifat keluh-kesah dan kikir tersebut (dalam ayat 22-34) jika kita rangkum menjadi 5 terapi stres, sbb:

1. Mengerjakan Shalat dan Istiqamah dalam Shalat.
Hal ini ditunjukan pada ayat 22,23, dan 34. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, [70:22]. yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya, [70:23]. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya. [70:34]

Yang menjadi pertanyaan, shalat seperti apa yang dapat mencegah kita dari penyakit tersebut? Tentu saja shalat yang dilandasi dengan keimanan dan pengetahuan yang benar ttg shalat itu sendiri. Orang yang senantiasa mendirikan shalat, bukan hanya melaksanakan saja serta mengerti kandungan do’a di dalam shalat itu sendiri. Shalat tidak hanya sebagai rutinitas penggugur kewajiban, walau itu pun benar. Namun hendaknya kita pun tahu kebutuhan kita akan shalat. Cita-cita kita akan shalat. Adakah cita-cita kita dalam shalat? Tentu saja ada! Seperti hal umum lainnya, seperti kegiatan lainnya yang mempunyai cita-cita ke depan, tujuan yang hendak kita capai. Begitu pun dengan shalat, kita harus memiliki tujuan dan cita-cita ke depan. Kemudian dia menjaga, istiqamah dalam shalatnya tersebut.

2. Membiasakan bersikap peduli.
Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, [70:24]. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), [70:25].

Hendaknya senantiasa kita rajin memperhatikan mereka yang berada dibawah kita. “Undur man huwa aspala minkum walaa tandzur man huwa fauqakum,” Lihatlah mereka yang (keadaan dunianya) berada dibawah kita dan janganlah melihat mereka yang (keadaan dunianya) berada diatas kita. Begitulah Hadits menyarankan. Kenapa? Agar kita terhindar dari penyakit merasa selalu kekurangan dan agar kita tidak menyepelekan ni’mat yang telah diberikan Allah pada kita serta tentu saja kita terhindar dari penyakit keluh-kesah yang berimbas pada penyakit stres. Sekecil apapun harta yang kita miliki, jika kita membandingkannya dengan orang yg lebih rendah status sosialnya dengan kita, tentu kita akan merasa kaya, dan mendorong kita untuk senantiasa berbagi dengan mereka. Jika hal ini kita rasakan “merasa kaya” lalu menyisihkan bagian tertentu dari harta kita untuk mereka, Insya Allah kita terhindar dari penyakit ini.

3. Berdzikir dan mengingat-ingat hari pembalasan.
Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, [70:26]. dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. [70:27]. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). [70:28].

Walakhiratu kharul laka minal uula, akhirat lebih utama dari dunia. Sekecil dan sebesar apapun perbuatan kita, sekecil dan sebesar apapun yang kita lakukan, semuanya akan diperhitungkan dihari pembalasan nanti. Orang-orang yang senantiasa mengingat hari akhir, hari dimana segala perbuatan dipertanggungjawabkan tentu dia tidak akan merasa segala kegagalannya di dunia begitu berarti, karena yang dia harapkan adalah balasan disisi Allah dihari akhir nanti.

4. Memelihara syahwat.
Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, [70:29]. kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. [70:30]. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. [70:31].

Nafsu adalah suatu hal yang normal ada pada setiap manusia. Islam tidak mengajarkan untuk membunuh nafsu, namun Islam mengatur bagaimana agar nafsu tersebut termenej dengan baik, agar tidak keluar dari jalurnya, agar tidak melampaui batas yang telah ditentukan Allah dan Rasul-Nya. Orang yang mampu memenej syahwat dan menyalurkannya pada jalan yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya (pernikahan) dia akan merasa lebih aman, tenang dan tentram. Hidupnya tidak dibayangi ketakutan dan rasa bersalah telah melampiaskan syahwatnya ditempat yang bukan semestinya. Orang yang merasa aman, tenang, dan tentram tentu dia akan terhindar dari penyakit stres ini.

5. Menjaga Janji dan amanat.
Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. [70:32]. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. [70:33].

Orang yang dipercaya dan mampu menjaga kepercayaan yang diberikan orang lain. Hidupnya akan lebih tentram dan damai. Dengan menjaga janji dan amanat yang diberikan pada kita, hidup akan tentram tanpa dibayangi perasaan bersalah telah mengkhianati amanat atau janji.

Demikian, lima terapi stres yang tercantum dalam Q.S Al-Ma’arij [70] :19-35. Jika stres mulai menjangkiti kita, hendaknya mengerjakan, menjaga, dan istiqamah dalam shalat, biasakan bersikap peduli terhadap sesama, perbanyak dzikir dan mengingat hari akhir, pelihara syahwat dalam jalan yang diridlai Allah, dan terakhir hendaknya menjaga janji serta amanat. Insya Allah, mudah-mudahan kita terhindar dari penyakit stres yang melanda kota-kota metropolitan.

Wallahu ‘Alam.

Comments No Comments »