Ada saat dimana kita ingin sendiri
Ada saat dimana kita tak ingin diganggu
Ada saat dimana pikiran kita tengah penat
Ada saat dimana hati kita sedang tertutup
Ada saat dimana kita ingin melepaskan kekesalan
Ada saat dimana kita ingin membiarkan emosi kita terlepas
Ada saat dimana kita ingin tertawa puas
Ada saat dimana kita ingin berteriak
Namun semua itu kadang tak bisa terlampiaskan
Namun semua itu kadang tak mampu tersalurkan
Karena keberadaan kita ditengah mereka yang kita kasihi
Karena keberadaan kita sebagai salah satu “figur”
Namun kadang kita tak sadar telah melepaskan semua itu
Namun kadang kita tak sadar telah membuat semua tersakiti
Karena kekhilapan kita sebagai manusia
Karena keangkuhan kita yang tak menyadari kesalahan
***********
Dua minggu ini kuakui saat-saat galau menyelimuti diri. Entah apa yang menghinggapi hati hingga membuatnya kesal. Aku hanya ingin sendiri, aku tak ingin diganggu, aku tengah penat, hatiku tertutup untuk membantu. Sedikit-sedikit kulepaskan emosi dan kekesalan… dan aku tertawa… aku puas… aku merasa menjadi seorang yang tegas, keras, sedikit kejam dan jahat… tidak mempedulikan perasaan orang lain… namun, aku merasa puas… inilah point pertama tentang keangkuhaku. Semoga aku dimaafkan dan diampuni.
Ok, kita buat satu rumus 5w 1H seperti halnya teori jurnalistik yang dulu kupelahari. Sebenarnya apa sumber dibalik semua ini…?
What, Apa yang terjadi?
Pertama, aku kesal pada dewan yg membuat kebijakan sendiri di yayasan satu, aku kesal pada mereka yang hanya melihat keburukanku dan rekan-rekan yang ikut mengurus sub dewan, aku kesal pada mereka yang sok ikut campur dalam masalah sub dewan yang kami urus, aku penat terhadap kontitusi yang hanya sekedar teori, aku kesal pada koruptor di yayasan ini walau sudah tercium bau tikus got tapi dewan tertinggi tetap membiarkan, aku kesal pada bagian logistik yang tiap hari hanya menyediakan makan siang tak bergizi, hanya membuat nafsu makan kami semakin turun. Aku kesal program ku yang disetujui pada rapat di yayasan dua tak pernah direalisasikan, walau itu untuk kebaikan anggotanya bukan untuk kemakmuran aku, toh aku tidak mendapat royalti akan program yang kususun hingga membuat waktuku tersita karenanya. Kedua, aku iba melihat kondisi generasi yang lebih down dari diriku, baik secara mental, moral, maupun sosial. Ketiga, aku merasa tak dihargai, bukannya aku mengharapkan penghargaan dari mereka, namun jasaku dan rekan lain terkubur dengan nila setitik. Keempat, imageku sudah sedikit pudar, dan secepatnya harus kubenahi… mode jaim harus kembali ON… hehe. Terakhir… hafalanku tidak bertambah… malah aku sibuk merapikan hafalan yang dulu… tercecer… ugh.
Why, kenapa itu bisa terjadi?
Pertama, tidak ada kejelasan dan ketegasan dewan tertinggi mengenai masalah-masalah yayasan satu. Kedua, di yayasan dua, senioritas terlalu angkuh untuk menjalankan program yg telah fik pada rapat. Dan terakhir, aku merasa down saat itu… keimananku semakin hari kian turun, dan itu membuatku kesal, apa yg tengah terjadi padaku?
When, kapan hal itu terjadi?
Pertama, masalah dewan pada yayasan satu dan dua beserta ecek-eceknya sudah lama terjadi, seperti menunggu api dalam sekam… tidak lama aku rasa… api akan keluar dari sekam, dan mereka akan menerima imbas kesalahan yang terus dibiarkan itu. Kedua, sebulan ini aku tengah yanqushu… menurun… aku teringat nasihat kang Anshor, al-imanu yazidu bitho’at wa yanqushu bima’shiyat, keimanan itu bertambah dengan ketha’atan dan berkurang dengan kemaksiyatan. Aku sadar keimananku semakin menurun karena kemaksiyatan yg kulakukan, aku membiarkan hal-hal yang mubah (boleh dilakukan) memperdayakanku. Hal-hal yang haram memang mudah kujauhi tapi hal-hal yang bersifat mubah yang akhirnya melalaikan sangat sulit kutinggalkan. Nasihat kang Anshor lagi terngiang dibenakku, kim, ingat! Muslim yang baik itu tarquhu malaa ya`nihi, muslim yang baik itu mereka yang mampu meninggalkan hal-hal yang mubah, yang dibolehkan namun tidak bermanfaat baginya.
Who, siapa dewan-dewan itu?
Tidak etis aku sebutkan disini. Namun yang jelas “who” disana yang merasa dirugikan adalah aku dan rekan-rekan seperjuangan disini.
Where, dimana?
Di dua yayasan. Pertama, yayasan tempat aku mendedikasikan segala kemampuan. Kedua, yayasan keorganisasian tempat aku tumbuh, tempat aku belajar hidup bersosialisasi dengan komunitas heterogen. Dan terakhir di dalam diri sendiri, secara intern aku tengah mengalami selfing clash.
How, bagaimana?
Bagaimana untuk mengatasi semua ini…? Aku harus tunjukkan diriku dihadapan dewan, kami harus menunjukkan diri didepan mata dewan, walau kadang itu percuma. Bagaimana untuk mengatasi kemunduran image… aku harus kembali bersikap tegas, sedikit kejam bila diperlukan… selfing clash…? Aku harus kembali mendidik diri dan keimanan ini dengan ketha’atan… Insya Allah.
Akhir dari semua itu… aku ingin menyendiri dulu, aku ingin berintrofeksi dulu, aku ingin mengatur staretegi jitu… dan untuk mereka yang tak sengaja tersakiti, aku mohon maaf.

Entries (RSS)