Bersyukur, karena “kudeta” itu memberi dampak yang positif.

Adzan maghrib berkumandang, sementara aku dan si Maghrib di tengah perjalanan menuju Masjid. Setelah si Maghrib, vespa tua kuparkirkan, sebelum mengambil air wudlu aku sempatkan melirik ke dalam masjid, ternyata para kasepuhan (para orang tua) yang kemarin hanya mewariskan pertengkaran kini tengah bercengkrama, diiringi obrolan ringan, canda dan tawa renyah menghiasi penantian mereka akan tibanya kumandang adzan Isya.

Setelah sekian lama pemandangan itu tidak pernah kulihat lagi, biasanya setelah shalat berjamaah dan shunnah ba’diyah, mereka pun beranjak tanpa unjuk punggung -sendiri sendiri-. Kini hatiku bisa merasa bangga. Gerimis dalam hati bukan karena aku sedih namun aku bahagia melihat hal itu. Rupanya mereka pun sangat merindukan saat-saat seperti ini. Dimana mereka bisa kembali bercengkrama tanpa harus menyisakan rasa su’u dzon dan prasangka yang lain-lain. Conggah dalam bahasa sunda kembali mereka perlihatkan.

Walau ada satu yang masih mengganjal, namun…

Indahnya ukhuwah…

Semoga untuk selamanya…

Amien… ;-)

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>