Archive for September, 2007

Sore menjelang buka shaum (puasa), darah ane naik, mata merah, serapah tak tertahan… bukan karena penyakit atau darah tinggi tapi karena melihat tumpukan sampah berisi makanan ta’jil (pembuka puasa) dan nasi dus basi yang tak termakan akibat ulah para penimbun. Dari tahun ke tahun, dari ramadhan ke ramadhan penimbun tak pernah belajar dan tak berperasaan. Hampir-hampir mata ini menangis merasakan rintihan butir-butir nasi yang berserakan memenuhi keranjang sampah dan mereka yang tak kebagian jatah karena keserakahan para penimbun.

Sebagai pengurus kesekretariatan tentu saja ane merasa bertanggungjawab pendistribusian tajil dan nasi dus menjelang buka. Setelah masing-masing pengurus masjid terbagi, lalu pada para jamaah dan mereka yang kebetulan mampir di masjid ini untuk shalat maghrib dan berbuka. Ane senang melihat wajah mereka terseyum saat menerima ta’jil atau nasi dus. Sebagai sesama grasroot (halaaah) ane rasakan keni’matan itu.

Namun ketika lengah sedikit saja para PU yang ikut mengurus pendistribusian mereka mengambil jatah lebih; kadang seorang mengambil empat bungkus ta’jil dan dua bungkus nasi dus. Syukur-syukur kalo emang semuanya kemakan tapi kebanyakan berakhir di tempat sampah tanpa tersentuh. Bagaimana perasaan para donatur jika mengetahui keadaan ini. Dan bagaimana perasaan mereka yang tidak kebagian jatah ta’jil dan nasi dus.

Layaknya iklan layanan masyarakat di televisi mereka tak pernah belajar. Kerakusan menjelang berbuka tak pernah menjadi pelajaran. Layaknya anak-anak yang baru belajar puasa, mengumpulkan segala jenis makanan untuk berbuka namun yang termakan hanya sekedar saja yang lain menjadi sia-sia (mubadzir).

Padahal…
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk berbagi.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk prihatin.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk sederhana.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk qonaah.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk taqwa, berhati-hati.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk berilmu (mengetahui).
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk bersyukur.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk berada dalam kebenaran.

Tapi kenapa kerakusan seakan tak pernah hilang dari diri kita.

Comments No Comments »

Air Jeruk Dingin
Siang ituh panas mentari begitu menyengat. Ane baru pulang menawarkan proposal kerja sama untuk Bulletin Jum’at yang diterbitkan kesekretariatan masjid. Si Maghrib, Vespa tua ane parkirkan dekat serambi. Ahmad, sang muadzin datang menghampiri, "Cape yah kang…?" Tanyanya. "Ia nih, kayaknya panas-panas ginih enaknya minum es jeruk mad" Jawabku sambil bersandar di teras serambi. Belum lagi Ahmad berdiri, Arif penjual es jeruk di depan masjid datang menyodorkan segelas air jeruk dingin. Heran, belum juga pesan -cuma baru ngomong sama Ahmad- si Arif tumben ngerti. "Nih kang air jeruknya, udah dibayar sama bapak yang itu" Kata Arif sambil menunjuk ke arah bangku dekat gerobak jualannya. Tapi nggak ada siapa-siapa di bangku itu. "Bapak yang mana rif?" Tanyaku heran. "Bapak yang iii…iitu… loh, tadi ada duduk di bangku." Jawab Arif. "Bapak siapa rif, kenal nggak?" Selidikku. "Perasaan sih bapak tadi nggak asing wajahnya, tapi nggak tahu juga sih kang, yang jelas bapak tadi memesan air jeruk saat akang tiba!" Jawab Arif. Jelas saja ane bingung, heran campur merasa aneh, siapa bapak yang baik itu.

Mie Ayam
Setelah kejadian es jeruk, esok harinya setelah shalat Ashar berjama’ah. Ane duduk di kantor kesekretariatan DKM. "Lapar eung…!" Kataku pada Basyir staf DKM. "Pesenin makanan kang?" tawarnya. "Iya deh, pesenin mie ayam di depan sir, syukran sebelumnya yah!" Pintaku. Belum lagi Basyir beranjak, si mas yang biasa jualan mie ayam di depan masjid datang membawa dua mangkok mie ayam. "Buat siapa mas?" tanyaku spontan. "Ya buat akang sama Basyir, Pak Haji yang nyuruh, udah dibayar ko kang…" Jawab si mas enteng. "Looh… Alhamdulillaaaah…! Pengertian banget pak Haji ga biasanya…" Bisikku dalam hati. "Kebetulan atuh kang, gratisan…!" Kata Basyir sambil tersenyum. Setelah mie ayam habis disantap, pak haji datang. "Makasih pak haji mie ayamnya…" kataku. "Mie ayam apa…?" Tanya pak haji."Kan pak haji yang pesanin buat kita…!?!?" Tanyaku heran. "Ane baru datang, boro-boro sempet pesan mie ayam buat antum." Jawab pak haji. "Loh! lantas siapa yang pesenin dan bayar mie ayam?!?"

Pak RT
Seminggu kemudian. KTP (kartu tanda penduduk) ku udah habis masa berlakunya. Hari sudah larut malam, niatku besok pagi saja menghubungi pak RT. Keesokan paginya belum lagi mendatangi rumah pak RT, tiba-tiba beliau datang ke rumah. Anehnya beliau bilang begini, "Nak, katanya KTP kamu udah abis masanya yah, mau di perpanjang? Sekalian saja sini, kebetulan bapak mau ke kecamatan." Aku terheran-heran, tidak berani bertanya dari siapa pak RT tahu… !?!?

it’s weird… ;))

Comments No Comments »

Air Jeruk Dingin
Siang ituh panas mentari begitu menyengat. Ane baru pulang menawarkan proposal kerja sama untuk Bulletin Jum’at yang diterbitkan kesekretariatan masjid. Si Maghrib, Vespa tua ane parkirkan dekat serambi. Ahmad, sang muadzin datang menghampiri, "Cape yah kang…?" Tanyanya. "Ia nih, kayaknya panas-panas ginih enaknya minum es jeruk mad" Jawabku sambil bersandar di teras serambi. Belum lagi Ahmad berdiri, Arif penjual es jeruk di depan masjid datang menyodorkan segelas air jeruk dingin. Heran, belum juga pesan -cuma baru ngomong sama Ahmad- si Arif tumben ngerti. "Nih kang air jeruknya, udah dibayar sama bapak yang itu" Kata Arif sambil menunjuk ke arah bangku dekat gerobak jualannya. Tapi nggak ada siapa-siapa di bangku itu. "Bapak yang mana rif?" Tanyaku heran. "Bapak yang iii…iitu… loh, tadi ada duduk di bangku." Jawab Arif. "Bapak siapa rif, kenal nggak?" Selidikku. "Perasaan sih bapak tadi nggak asing wajahnya, tapi nggak tahu juga sih kang, yang jelas bapak tadi memesan air jeruk saat akang tiba!" Jawab Arif. Jelas saja ane bingung, heran campur merasa aneh, siapa bapak yang baik itu.

Mie Ayam
Setelah kejadian es jeruk, esok harinya setelah shalat Ashar berjama’ah. Ane duduk di kantor kesekretariatan DKM. "Lapar eung…!" Kataku pada Basyir staf DKM. "Pesenin makanan kang?" tawarnya. "Iya deh, pesenin mie ayam di depan sir, syukran sebelumnya yah!" Pintaku. Belum lagi Basyir beranjak, si mas yang biasa jualan mie ayam di depan masjid datang membawa dua mangkok mie ayam. "Buat siapa mas?" tanyaku spontan. "Ya buat akang sama Basyir, Pak Haji yang nyuruh, udah dibayar ko kang…" Jawab si mas enteng. "Looh… Alhamdulillaaaah…! Pengertian banget pak Haji ga biasanya…" Bisikku dalam hati. "Kebetulan atuh kang, gratisan…!" Kata Basyir sambil tersenyum. Setelah mie ayam habis disantap, pak haji datang. "Makasih pak haji mie ayamnya…" kataku. "Mie ayam apa…?" Tanya pak haji."Kan pak haji yang pesanin buat kita…!?!?" Tanyaku heran. "Ane baru datang, boro-boro sempet pesan mie ayam buat antum." Jawab pak haji. "Loh! lantas siapa yang pesenin dan bayar mie ayam?!?"

Pak RT
Seminggu kemudian. KTP (kartu tanda penduduk) ku udah habis masa berlakunya. Hari sudah larut malam, niatku besok pagi saja menghubungi pak RT. Keesokan paginya belum lagi mendatangi rumah pak RT, tiba-tiba beliau datang ke rumah. Anehnya beliau bilang begini, "Nak, katanya KTP kamu udah abis masanya yah, mau di perpanjang? Sekalian saja sini, kebetulan bapak mau ke kecamatan." Aku terheran-heran, tidak berani bertanya dari siapa pak RT tahu… !?!?

it’s weird… ;))

Comments No Comments »

Air Jeruk Dingin
Siang ituh panas mentari begitu menyengat. Ane baru pulang menawarkan proposal kerja sama untuk Bulletin Jum’at yang diterbitkan kesekretariatan masjid. Si Maghrib, Vespa tua ane parkirkan dekat serambi. Ahmad, sang muadzin datang menghampiri, "Cape yah kang…?" Tanyanya. "Ia nih, kayaknya panas-panas ginih enaknya minum es jeruk mad" Jawabku sambil bersandar di teras serambi. Belum lagi Ahmad berdiri, Arif penjual es jeruk di depan masjid datang menyodorkan segelas air jeruk dingin. Heran, belum juga pesan -cuma baru ngomong sama Ahmad- si Arif tumben ngerti. "Nih kang air jeruknya, udah dibayar sama bapak yang itu" Kata Arif sambil menunjuk ke arah bangku dekat gerobak jualannya. Tapi nggak ada siapa-siapa di bangku itu. "Bapak yang mana rif?" Tanyaku heran. "Bapak yang iii…iitu… loh, tadi ada duduk di bangku." Jawab Arif. "Bapak siapa rif, kenal nggak?" Selidikku. "Perasaan sih bapak tadi nggak asing wajahnya, tapi nggak tahu juga sih kang, yang jelas bapak tadi memesan air jeruk saat akang tiba!" Jawab Arif. Jelas saja ane bingung, heran campur merasa aneh, siapa bapak yang baik itu.

Mie Ayam
Setelah kejadian es jeruk, esok harinya setelah shalat Ashar berjama’ah. Ane duduk di kantor kesekretariatan DKM. "Lapar eung…!" Kataku pada Basyir staf DKM. "Pesenin makanan kang?" tawarnya. "Iya deh, pesenin mie ayam di depan sir, syukran sebelumnya yah!" Pintaku. Belum lagi Basyir beranjak, si mas yang biasa jualan mie ayam di depan masjid datang membawa dua mangkok mie ayam. "Buat siapa mas?" tanyaku spontan. "Ya buat akang sama Basyir, Pak Haji yang nyuruh, udah dibayar ko kang…" Jawab si mas enteng. "Looh… Alhamdulillaaaah…! Pengertian banget pak Haji ga biasanya…" Bisikku dalam hati. "Kebetulan atuh kang, gratisan…!" Kata Basyir sambil tersenyum. Setelah mie ayam habis disantap, pak haji datang. "Makasih pak haji mie ayamnya…" kataku. "Mie ayam apa…?" Tanya pak haji."Kan pak haji yang pesanin buat kita…!?!?" Tanyaku heran. "Ane baru datang, boro-boro sempet pesan mie ayam buat antum." Jawab pak haji. "Loh! lantas siapa yang pesenin dan bayar mie ayam?!?"

Pak RT
Seminggu kemudian. KTP (kartu tanda penduduk) ku udah habis masa berlakunya. Hari sudah larut malam, niatku besok pagi saja menghubungi pak RT. Keesokan paginya belum lagi mendatangi rumah pak RT, tiba-tiba beliau datang ke rumah. Anehnya beliau bilang begini, "Nak, katanya KTP kamu udah abis masanya yah, mau di perpanjang? Sekalian saja sini, kebetulan bapak mau ke kecamatan." Aku terheran-heran, tidak berani bertanya dari siapa pak RT tahu… !?!?

it’s weird… ;))

Comments No Comments »