Sore menjelang buka shaum (puasa), darah ane naik, mata merah, serapah tak tertahan… bukan karena penyakit atau darah tinggi tapi karena melihat tumpukan sampah berisi makanan ta’jil (pembuka puasa) dan nasi dus basi yang tak termakan akibat ulah para penimbun. Dari tahun ke tahun, dari ramadhan ke ramadhan penimbun tak pernah belajar dan tak berperasaan. Hampir-hampir mata ini menangis merasakan rintihan butir-butir nasi yang berserakan memenuhi keranjang sampah dan mereka yang tak kebagian jatah karena keserakahan para penimbun.

Sebagai pengurus kesekretariatan tentu saja ane merasa bertanggungjawab pendistribusian tajil dan nasi dus menjelang buka. Setelah masing-masing pengurus masjid terbagi, lalu pada para jamaah dan mereka yang kebetulan mampir di masjid ini untuk shalat maghrib dan berbuka. Ane senang melihat wajah mereka terseyum saat menerima ta’jil atau nasi dus. Sebagai sesama grasroot (halaaah) ane rasakan keni’matan itu.

Namun ketika lengah sedikit saja para PU yang ikut mengurus pendistribusian mereka mengambil jatah lebih; kadang seorang mengambil empat bungkus ta’jil dan dua bungkus nasi dus. Syukur-syukur kalo emang semuanya kemakan tapi kebanyakan berakhir di tempat sampah tanpa tersentuh. Bagaimana perasaan para donatur jika mengetahui keadaan ini. Dan bagaimana perasaan mereka yang tidak kebagian jatah ta’jil dan nasi dus.

Layaknya iklan layanan masyarakat di televisi mereka tak pernah belajar. Kerakusan menjelang berbuka tak pernah menjadi pelajaran. Layaknya anak-anak yang baru belajar puasa, mengumpulkan segala jenis makanan untuk berbuka namun yang termakan hanya sekedar saja yang lain menjadi sia-sia (mubadzir).

Padahal…
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk berbagi.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk prihatin.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk sederhana.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk qonaah.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk taqwa, berhati-hati.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk berilmu (mengetahui).
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk bersyukur.
Bukankah shaum mengajarkan kita untuk berada dalam kebenaran.

Tapi kenapa kerakusan seakan tak pernah hilang dari diri kita.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>