Seminggu yang lalu menghadiri acara tasyakur binni’mat (Syukuran) Al-Ustadz Maman Suryana yang mendapat undangan Raja untuk menunaikan ibadah haji di tahun ini (2007). KH. Emon sastranegara sebagai perwakilan dari Pusat Pimpinan memberikan pengantar tentang hal ihwal keberangkatan beliau yang mendapat undangan istimewa tersebut.
"Setiap tahun, bagi ormas-ormas Islam memang senantiasa mendapat undangan istimewa dari Raja untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci, dengan syarat bagi tamu undangan belum pernah menunaikan ibadah haji. Tentu saja dengan fasilitas istimewa; hotel berbintang, transfortasi eklusif, berangkat terakhir pulang duluan, plus uang saku. Namun, ketika orang nomor satu Indonesia dijabat Gusdur, undangan Raja tidak pernah ada lagi atau mungkin tidak pernah sampai pada ormas Islam seperti kita, Wallahu A’lam bagaimana itu bisa terjadi! Yang jelas, kembali mulai tahun ini (2007) undangan tersebut kita terima, yang alhamdulillah tahun ini Al-Ustadz Maman dikarenakan dedikasinya mendapat kehormatan tersebut terpilih sebagai salah satu tamu undangan. Perlu diketahui, secara keseluruhan total undangan Raja adalah 80 orang dari berbagai ormas." Demikian penjelasan KH. Emon Sastranegara.
Pimpinan Ma’had, KH. Atang AS memberikan petuah bagi semua asatidz yang hadir khususnya kepada Al-Ustadz Maman. Petuah yang sangat bijaksana sekali sebagai bekal beliau di tanah suci.
Seminggu sebelum syukuran, ane sempat ngobrol-ngobrol ringan dengan Al-Ustadz Maman, beliau menceritakan dan berbagi kebahagiaan mendapat undangan Raja, dan menitipkan kelas yang akan ditinggalkannya. Kami ngobrol banyak; mulai tentang sejarah masjid, sejarah para ustadz yang mendapat undangan seperti beliau, sampai beliau menceritakan tentang Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Qornul Manazil yang didirikan jamaah Masjid Pajagalan dengan maksud memberangkatkan minimal seorang ustadz yang mengajar di Ma’had ini dengan biaya dari mereka. Berdasarkan pemikiran salah satu penasihat masjid pada waktu yang mengatakan,
"Ti mana atuh ustadz boga duit? keun weh tong sina mikiran ngumpulkeun duit jang ibadah haji, anteup sina ngajar jeung da’wah, tugas urang nu ngumpulkeun nana mah, Insya Allah tiap tahun urang berangkatkeun!."
Tapi kini KBIH Qornul Manazil tidak lagi berada di lingkungan masjid, kepengurusannya telah diambil alih dan akhirnya tidak seorang ustadzpun yang diberangkatkan tiap tahunnya, meskipun KBIH tersebut sekarang sudah mapan dan cukup besar. Mudah-mudahan KBIH tersebut semakin besar dan dalam pelaksanaan ibadah hajinya sesuai dengan tuntunan Quran & Sunnah dan semoga para pengurusnya membaca tulisan ini dan sadar akan sejarah pertama maksud didirikannya "Qornul Manazil" Amien!
Saat terakhir bertemu beliau ane katakan, "Do’akan ane ustadz!" Tanpa mengembel-embeli do’a apa yang harus beliau pintakan untukku, beliau pasti mengerti, "Rabbana aatinaa fieddunya hasanah wafiel akhirati hasanah wa qinaa adzabannaar." Kebaikan dimana saja ane berada.
Besok tanggal 9 Dzulhijjah saatnya para hujjaj wukuf di Arafah, salah satunya memanjatkan do’a… Ust…! Semoga mendengar bisikan hati ini…
"Do’akan ane ya ustadz…!"