Archive for December, 2007

Siang ini nyempetin posting abiz jadi saksi plus pothografernya pernikahan tetehku. Belum beres sih acaranya… filemnye juge baru abiz setengah roll. Ponakan pada minta diphoto… 10×10 cape deh… tapi seneng…. selama ini akhirnya tetah get maried juga… ada suara bisikan di otak ini, "hayo ga ada alasan lagih" ;-p

[-0^0-]

(draft) Jum’at, 28 Desember 2007

Comments No Comments »

“Uszaen udah melahirkan kang..!!!” Teriak Opick di Gedung Utara Qoyyim lantai 4, ketika saya dan si maghrib baru memasuki halaman gedung ini. Teriakannya  mematikan gerungan si maghrib yang biasanya vokal lantang bersuara. “Kapaaan..??” teriakku tak mau kalah hingga si maghrib kaget dan terdiam. “Tadiii… sebelum lohor kang!” jawab Opick semangat. “Uszaen apa istrinya yang melahirkan…???” tanyaku. Opick malah tertawa terbahak… Read the rest of this entry »

Comments No Comments »

Seminggu yang lalu menghadiri acara tasyakur binni’mat (Syukuran) Al-Ustadz Maman Suryana yang mendapat undangan Raja untuk menunaikan ibadah haji di tahun ini (2007). KH. Emon sastranegara sebagai perwakilan dari Pusat Pimpinan memberikan pengantar tentang hal ihwal keberangkatan beliau yang mendapat undangan istimewa tersebut.

"Setiap tahun, bagi ormas-ormas Islam memang senantiasa mendapat undangan istimewa dari Raja untuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci, dengan syarat bagi tamu undangan belum pernah menunaikan ibadah haji. Tentu saja dengan fasilitas istimewa; hotel berbintang, transfortasi eklusif, berangkat terakhir pulang duluan, plus uang saku. Namun, ketika orang nomor satu Indonesia dijabat Gusdur, undangan Raja tidak pernah ada lagi atau mungkin tidak pernah sampai pada ormas Islam seperti kita, Wallahu A’lam bagaimana itu bisa terjadi! Yang jelas, kembali mulai tahun ini (2007) undangan tersebut kita terima, yang alhamdulillah tahun ini Al-Ustadz Maman dikarenakan dedikasinya mendapat kehormatan tersebut terpilih sebagai salah satu tamu undangan. Perlu diketahui, secara keseluruhan total undangan Raja adalah 80 orang dari berbagai ormas." Demikian penjelasan KH. Emon Sastranegara.

Pimpinan Ma’had, KH. Atang AS memberikan petuah bagi semua asatidz yang hadir khususnya kepada Al-Ustadz Maman. Petuah yang sangat bijaksana sekali sebagai bekal beliau di tanah suci.

Seminggu sebelum syukuran, ane sempat ngobrol-ngobrol ringan dengan Al-Ustadz Maman, beliau menceritakan dan berbagi kebahagiaan mendapat undangan Raja, dan menitipkan kelas yang akan ditinggalkannya. Kami ngobrol banyak; mulai tentang sejarah masjid, sejarah para ustadz yang mendapat undangan seperti beliau, sampai beliau menceritakan tentang Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Qornul Manazil yang didirikan jamaah Masjid Pajagalan dengan maksud memberangkatkan minimal seorang ustadz yang mengajar di Ma’had ini dengan biaya dari mereka. Berdasarkan pemikiran salah satu penasihat masjid pada waktu yang mengatakan,

"Ti mana atuh ustadz boga duit? keun weh tong sina mikiran ngumpulkeun duit jang ibadah haji, anteup sina ngajar jeung da’wah, tugas urang nu ngumpulkeun nana mah, Insya Allah tiap tahun urang berangkatkeun!."

Tapi kini KBIH Qornul Manazil tidak lagi berada di lingkungan masjid, kepengurusannya telah diambil alih dan akhirnya tidak seorang ustadzpun yang diberangkatkan tiap tahunnya, meskipun KBIH tersebut sekarang sudah mapan dan cukup besar. Mudah-mudahan KBIH tersebut semakin besar dan dalam pelaksanaan ibadah hajinya sesuai dengan tuntunan Quran & Sunnah dan semoga para pengurusnya membaca tulisan ini dan sadar akan sejarah pertama maksud didirikannya "Qornul Manazil" Amien!

Saat terakhir bertemu beliau ane katakan, "Do’akan ane ustadz!" Tanpa mengembel-embeli do’a apa yang harus beliau pintakan untukku, beliau pasti mengerti, "Rabbana aatinaa fieddunya hasanah wafiel akhirati hasanah wa qinaa adzabannaar." Kebaikan dimana saja ane berada.

Besok tanggal 9 Dzulhijjah saatnya para hujjaj wukuf di Arafah, salah satunya memanjatkan do’a… Ust…! Semoga mendengar bisikan hati ini…

"Do’akan ane ya ustadz…!"

Comments No Comments »

"Rajawali memang tidak sudi terikat apalagi diikat. Hidup bebas dengan bermahkota kesepian, itulah pembawaannya. Tapi di dalam hidupnya yang bebas dan kesepian itu toh ada juga yang ditundukinya. Dan yang ditundukinya itu ialah keindahan." (Sontani, 1920-1979)

Kalimat tersebut aku dapatkan pada lembaran-lembaran karya sastra, "Di Bawah Langit Tak Berbintang" Sang penulis, Sontani menggambarkan kepribadian penulis/sastrawan yang tidak mau terkekang dengan aturan dan komitmen, dalam hal ini (waktu itu) penulis tidak mau terikat oleh belenggu partai politik yang cukup berkuasa pada waktu itu. Terlepas apakah Sontani benar-benar seorang komunis atau bukan tapi menurut Ajip Rosidi rekan sesama sastrawan menyatakan bahwa dia bukanlah seorang komunis, ntah mana yang benar.

Btw,

Sontani juga mengakui bahwa di balik mahkota kesepiaannya ternyata dia masih dapat ditundukkan, dapat diikat, dan mau berkomitmen… Setelah membaca tamat buku tersebut, saya menyimpulkan Sontani dapat tunduk dan ditundukkan oleh keindahan dari sesosok makhluk lembut yang dicipta Tuhan dari tulang diantara bagian tubuhnya;

Yang tercipta…

Bukan dari tulang kakinya untuk menjadi alasnya.
Bukan pula dari tulang kepalanya untuk menjadi pemimpinnya.
Tapi dari tulang yang berada dekat lengannya agar dia mampu melindunginya.
Dan dekat dengan hatinya agar dia mampu mencintai dan menyayanginya.
Keindahan yang tercipta dari tulang rusuknya.

Aaaah… Keindahan itu belum kutemukan sampai sekarang, ntah kapan keindahan itu mampu menundukkan mahkota kesepianku. Mungkin tidak lama lagi, semoga… (Halaaaaah)

Comments No Comments »