Ujian_4
"Jangan terlalu keras!"
Pak Wahab, guru pengawas ujian menyapaku saat pertama aku memasuki ruangan guru. "Kenapa pak?" Tanyaku pura-pura heran. "Beberapa murid mengadu pada saya, katanya bapak terlalu keras sampai harus mengeluarkan mereka karena bekerjasama dan menyontek?" Tanya beliau. Aku hanya tersenyum dingin menanggapi pertanyaannya. "Saya hanya melakukan tugas sebagai pengawas pak, tidak lebih dan tidak kurang." Jawabku ringan sambil mengambil segelas teh manis hangat di meja pengawas yang telah disediakan Kang Uje, pesuruh sekolah. "Makasih kang!" sapaku hangat padanya yang tengah menyediakan air teh manis untuk guru yg lain. "Sudah tugas saya pak." Jawabnya tersenyum sambil berlalu.

Jawabanku pada pak Wahab tidak lain sebagai sindiran bahwa dia juga pengawas yang harus melakukan tugasnya sebagai amanat.

"Pak Wahab mendengar jawaban Kang Uje barusan? ‘Sudah tugas saya pak’ Kalo kang Uje saja tahu tugasnya, mestinya bapak juga tahu tugas bapak sebagai pengawas!" Sindiran tajamku pada pak Wahab cukup membuat roman mukanya memerah.

"Tapi kan pak, anak-anak perlu kelonggaran, jangan sampe kita membuat mereka stress!"

Rupanya pak Wahab masih mengelak. Obrolan ringan yang cukup alot pun berlangsung lama antara aku dan beliau di ruangan guru saat istirahat pertama ujian semester ganjil berlangsung.

"Kelonggaran itu telah saya berikan pada mereka pak! Silahkan saja tanya anak-anak, apakah begitu saja saya mengeluarkan mereka yang terbukti bekerjasama dan menyontek? Saya punya toleransi tetapi toleransi saya dibatasi. Toh saya memberikan peringatan terlebih dahulu, hanya setelah beberapa kali peringatan tidak mereka gubris, saya tidak punya pilihan lain kecuali melakukan hal yang sebenarnya saya sendiri tidak suka, mengambil kertas ujian dan mengeluarkan mereka dari kelas karena mengganggu peserta ujian yang lain! Intinya, saya tidak terlalu keras lho pak, buktinya kertas ujian itu masih dikumpulkan dengan kertas ujian anak-anak yang lain untuk diberi nilai dan tidak saya sobek seperti yang pernah dilakukan Pak Yoman, seharusnya bapak dan anak-anak bersyukur saya tidak menyobek kertas ujian! Dan seharusnya bapak juga berterimakasih karena saya tidak melakukan hal itu!"

Pak Wahab tetap tidak mau terima penjelasanku. Aku merasa aneh pada pernyataan bapak ini. Bagaimana bisa kita harus mentolerir budaya yang jelas-jelas merusak cara berpikir siswa. Dan yang membuatku heran dengan pernyataannya ini,

"Sayang pak! Pesona dan karisma bapak cukup dikagumi anak-anak, jadi jangan sampai pesona bapak itu hilang."

Rupanya pak Wahab lebih mementingkan "Tebar Pesona" dari pada memenuhi amanat sebagai pengawas ujian.

Budaya nyontek memang telah mendominasi berbagai aspek kehidupan. Termasuk saat ujian berlangsung yang merupakan bagian dari proses pembelajaran terstruktur dalam dunia pendidikan yang dalam kesempatan tersebut siswa diberikan soal untuk dijawab
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan diharapkan dari ujian tersebut akan
terlihat siapa yang lebih tahu dan lebih mampu, siapa yang kurang dan
siapa yang tidak tahu, itu sebagai feedback bagi bidang kurikulum dan administrasi pendidikan untuk meninjau ulang serta meningkatkan system pengajaran mereka. Memang ada diantara siswa yang sungguh-sungguh belajar
dan menjawab soal ujian secara jujur, namun ada yang sebaliknya. Bagi
mereka yang masuk kategori pertama, ujian merupakan test bagi kemampuan dirinya,
sementara yang terakhir, ujian hanya sekedar mencari nilai.

Pilih yang mana? Menguji kemampuan diri? Atau hanya mencari nilai?

Mungkin banyak yang memilih keduanya; menguji diri dan mencari nilai.

Kalo begitu ujilah kemampuan diri dengan cara jujur agar nilai yang didapat bisa kamu banggakan!

Mari kita hilangkan budaya mencontek.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>