Sabtu malam kemaren mungkin daku satu-satunya dari komunitas blogger yang menghadiri kegiatan yang bertajuk "Stop AIDS, Keep the Promise" Acara yang merupakan bagian dari kampanye Hari Aids Sedunia itu digelar di pelataran Yamaha jalan Merdeka Bandung.
Ada talkshow Penyiar vs penderita Aids, gelar seni musik, baca puisi, dan art performance dari Yayasan Sidikara, Radio Rama dan Bengkel Kreasi 19.
Opik yang tergabung di Bengkel Kreasi 19 tergolong difabel, Ia "tidak biasa" seperti kita, ia cacat, tidak bisa bicara secara normal, namun puisinya mampu menggetarkan hati daku saat itu,
Hei // kamu yang ada // di depan, di sampingku, // di belakangku // jangan kalian menghindar // dari aku dan // menjauh dari ku // memang keadaanku // seperti ini // memang jalanku // seperti orang mabuk // Aku bertanya // pada // kalian semua // memang ke // napa // kalian? // takut terhadapku // aku tidak akan // apa apa // selama kalian // baik terhadapku // aku bukan pemabuk // ulung // dan // lagipula // aku bukan // hantu // gentayangan // di siang // malam.
Puisi ungkapan Opik mungkin tidak beda dengan penderita Aids yang terkucilkan, mendapat perlakuan diskriminatif, tersisihkan, dan dianggap wabah penyakit yang harus dijauhi dan diasingkan. Padahal tidak semua penderita Aids mereka yang berlumur dosa, "jajan" sembarangan dengan membelakangi norma agama. Lagipula siapa diri kita berhak menjudge mereka? Kita bukan Tuhan! Kita bukan manusia yang selalu benar. Tuhan pun Maha Pengampun Penerima Taubat, kenapa kita begitu arogan?
Melihat penampilan Opik, aku teringat teman mainku waktu kecil Aray yang difabel seperti halnya Opik. Entah dengan Opik tapi Aray dia menjadi difabel dikarenakan imunisasi campak sewaktu dia kecil. Sakit panas yang dideritanya waktu itu tidak membuat ibu-ibu PKK mendelay imunisasi. Akibatnya seumur hidup dia harus menanggung difabel… Setelah keluarganya, daku yang paling dekat dengan Aray tempat dia berbagi rasa, karena teman2 yang laen lebih sering memperolok-olokan kecacatannya.
Puisi Opik berikutnya yang berjudul "Hidup Tidak Mati Tidak", mampu membuatku berkaca-kaca,
Otakku // tidak ber // fungsi // seperti mesin // yang // berkarat // dan // macet. // Otakku // tak mampu // berpikir // panjang. // Hatiku // seperti padam // dan gelap // tanpa cahaya // setitikpun. // Hatiku atau // jantungku // detaknya makin // lemah dan // lelah. // Seperti ingin // berhenti ber // detak. // Tubuhku // seperti // tak bertenaga // lemah // tak berdaya // terkapar // tak bergerak // sedikitpun // seperti MATI.
Opik tergabung dalam Bengkel Keasi 19, dia benar-benar total ingin menjadi penyair yang menyuarakan hati nurani kaum cacat.
Kampanye Hari Aids membuatku menulis catatan tersendiri bahwa Islam memang agama mulia, salah satu… atau mungkin satu-satunya agama yang mempunyai konsep preventif aktif, pencegahan lebih baik dari pengobatan. Aids lebih banyak menjangkiti mereka yang melakukan hubungan sembarangan tanpa mengenal konsep halal dan haram. Islam mengajarkan untuk menjaga kemungkinan itu. Bagaimana Islam mengajarkan untuk menundukkan pandangan atas lawan jenis yang bisa berakibat bangkitnya birahi. Bahkan dengan tegas Islam mewanti-wanti untuk tidak mendekati perbuatan yang akan mengakibatkan zina. Mendekati saja sudah dilarang apalagi melakukannya.
Diakhir acara panitia membagikan brosur dan bunga. Yang aku tidak setuju adalah mempromosikan penggunaan kondom pada setiap aktivitas seksual berisiko, terlebih lagi membagi-bagikan kondom dijalanan seperti yang dilakukan mahasiswa Unhas di Makasar pada setiap pengemudi angkutan umum. Bahkan KPAD (komisi Penanggulangan Aids Bali) di Kuta membagi-bagikan lebih dari 5000 kondom secara gratis pada masyarakat luas. Sungguh perbuatan yang jauh dari nilai etika agama. Untuk kalangan plularisme sekuler mungkin tidak menjadi soal. Tapi kalau kita ambil pelajaran apa yang bisa kita petik dari pembagian masal tersebut.
Bukankah pembagian kondom gratis tersebut malah bisa mengakibatkan interpretasi keliru pada generasi muda (pelajar dan mahasiswa) yang "akan" menganggap bahwa melakukan hubungan badan dengan siapa saja tidak menjadi soal asal menggunakan kondom…? Padahal norma agama sudah jelas menyatakan bahwa hubungan badan di luar suami istri yang sah itu HARAM dan termasuk DOSA BESAR.
Rasanya pemerintah dan organisasi sosial kemasyarakatan yang bergerak dalam bidang ini perlu melakukan PK (peninjauan kembali) pembagian kondom gratis pada masyarakat tersebut.
Jangan sampai generasi bangsa kita hancur moralnya dengan intrepretasi yang salah kaprah.

Entries (RSS)