"Rajawali memang tidak sudi terikat apalagi diikat. Hidup bebas dengan bermahkota kesepian, itulah pembawaannya. Tapi di dalam hidupnya yang bebas dan kesepian itu toh ada juga yang ditundukinya. Dan yang ditundukinya itu ialah keindahan." (Sontani, 1920-1979)
Kalimat tersebut aku dapatkan pada lembaran-lembaran karya sastra, "Di Bawah Langit Tak Berbintang" Sang penulis, Sontani menggambarkan kepribadian penulis/sastrawan yang tidak mau terkekang dengan aturan dan komitmen, dalam hal ini (waktu itu) penulis tidak mau terikat oleh belenggu partai politik yang cukup berkuasa pada waktu itu. Terlepas apakah Sontani benar-benar seorang komunis atau bukan tapi menurut Ajip Rosidi rekan sesama sastrawan menyatakan bahwa dia bukanlah seorang komunis, ntah mana yang benar.
Btw,
Sontani juga mengakui bahwa di balik mahkota kesepiaannya ternyata dia masih dapat ditundukkan, dapat diikat, dan mau berkomitmen… Setelah membaca tamat buku tersebut, saya menyimpulkan Sontani dapat tunduk dan ditundukkan oleh keindahan dari sesosok makhluk lembut yang dicipta Tuhan dari tulang diantara bagian tubuhnya;
Yang tercipta…
Bukan dari tulang kakinya untuk menjadi alasnya.
Bukan pula dari tulang kepalanya untuk menjadi pemimpinnya.
Tapi dari tulang yang berada dekat lengannya agar dia mampu melindunginya.
Dan dekat dengan hatinya agar dia mampu mencintai dan menyayanginya.
Keindahan yang tercipta dari tulang rusuknya.
Aaaah… Keindahan itu belum kutemukan sampai sekarang, ntah kapan keindahan itu mampu menundukkan mahkota kesepianku. Mungkin tidak lama lagi, semoga… (Halaaaaah)

Entries (RSS)
yaaah, nggak jauh2 yah…urusannya sama tulang rusuk lagi :p