
"Jangan terlalu keras!" Pak Wahab, guru pengawas ujian menyapaku saat pertama aku memasuki ruangan guru. "Kenapa pak?" Tanyaku pura-pura heran. "Beberapa murid mengadu pada saya, katanya bapak terlalu keras sampai harus mengeluarkan mereka karena bekerjasama dan menyontek?" Tanya beliau. Aku hanya tersenyum dingin menanggapi pertanyaannya. "Saya hanya melakukan tugas sebagai pengawas pak, tidak lebih dan tidak kurang." Jawabku ringan sambil mengambil segelas teh manis hangat di meja pengawas yang telah disediakan Kang Uje, pesuruh sekolah. "Makasih kang!" sapaku hangat padanya yang tengah menyediakan air teh manis untuk guru yg lain. "Sudah tugas saya pak." Jawabnya tersenyum sambil berlalu.
Jawabanku pada pak Wahab tidak lain sebagai sindiran bahwa dia juga pengawas yang harus melakukan tugasnya sebagai amanat.
"Pak Wahab mendengar jawaban Kang Uje barusan? ‘Sudah tugas saya pak’ Kalo kang Uje saja tahu tugasnya, mestinya bapak juga tahu tugas bapak sebagai pengawas!" Sindiran tajamku pada pak Wahab cukup membuat roman mukanya memerah.
"Tapi kan pak, anak-anak perlu kelonggaran, jangan sampe kita membuat mereka stress!"
Rupanya pak Wahab masih mengelak. Obrolan ringan yang cukup alot pun berlangsung lama antara aku dan beliau di ruangan guru saat istirahat pertama ujian semester ganjil berlangsung.
"Kelonggaran itu telah saya berikan pada mereka pak! Silahkan saja tanya anak-anak, apakah begitu saja saya mengeluarkan mereka yang terbukti bekerjasama dan menyontek? Saya punya toleransi tetapi toleransi saya dibatasi. Toh saya memberikan peringatan terlebih dahulu, hanya setelah beberapa kali peringatan tidak mereka gubris, saya tidak punya pilihan lain kecuali melakukan hal yang sebenarnya saya sendiri tidak suka, mengambil kertas ujian dan mengeluarkan mereka dari kelas karena mengganggu peserta ujian yang lain! Intinya, saya tidak terlalu keras lho pak, buktinya kertas ujian itu masih dikumpulkan dengan kertas ujian anak-anak yang lain untuk diberi nilai dan tidak saya sobek seperti yang pernah dilakukan Pak Yoman, seharusnya bapak dan anak-anak bersyukur saya tidak menyobek kertas ujian! Dan seharusnya bapak juga berterimakasih karena saya tidak melakukan hal itu!"
Pak Wahab tetap tidak mau terima penjelasanku. Aku merasa aneh pada pernyataan bapak ini. Bagaimana bisa kita harus mentolerir budaya yang jelas-jelas merusak cara berpikir siswa. Dan yang membuatku heran dengan pernyataannya ini,
"Sayang pak! Pesona dan karisma bapak cukup dikagumi anak-anak, jadi jangan sampai pesona bapak itu hilang."
Rupanya pak Wahab lebih mementingkan "Tebar Pesona" dari pada memenuhi amanat sebagai pengawas ujian.
Budaya nyontek memang telah mendominasi berbagai aspek kehidupan. Termasuk saat ujian berlangsung yang merupakan bagian dari proses pembelajaran terstruktur dalam dunia pendidikan yang dalam kesempatan tersebut siswa diberikan soal untuk dijawab
sesuai dengan kemampuan masing-masing. Dan diharapkan dari ujian tersebut akan
terlihat siapa yang lebih tahu dan lebih mampu, siapa yang kurang dan
siapa yang tidak tahu, itu sebagai feedback bagi bidang kurikulum dan administrasi pendidikan untuk meninjau ulang serta meningkatkan system pengajaran mereka. Memang ada diantara siswa yang sungguh-sungguh belajar
dan menjawab soal ujian secara jujur, namun ada yang sebaliknya. Bagi
mereka yang masuk kategori pertama, ujian merupakan test bagi kemampuan dirinya,
sementara yang terakhir, ujian hanya sekedar mencari nilai.
Pilih yang mana? Menguji kemampuan diri? Atau hanya mencari nilai?
Mungkin banyak yang memilih keduanya; menguji diri dan mencari nilai.
Kalo begitu ujilah kemampuan diri dengan cara jujur agar nilai yang didapat bisa kamu banggakan!
Mari kita hilangkan budaya mencontek.
No Comments »
Setahun belakangan ini aku terus berpikir tentang keberadaanku, eksistensiku di dunia ini, untuk apa dan untuk siapa aku hidup. Merenung dan bertanya-tanya pada
diri sendiri, nggak jauh dengan orang gila di lampu penyeberangan sana yang selalu bergumam sendiri, ya di
sana… di perempatan lampu merah, trafic light perempatan jalan sana, pakaiannya tercabik-cabik, lusuh, compang-camping, mirip
korban perang.
Suatu hari saat aku hendak menyeberangi trafic light itu terdengar jelas
di telinga kiriku yang bertindik dua berjajar, mirip vokalis Match box
twenty, Rob Thomas, salah satu vokalis yang paling aku gandrungi waktu
itu apalagi saat dia duet bareng Carlos Santana, gitaris gaek namun masih kahot
dan termasuk gitaris papan atas dunia. Rob saat itu bawain lagu Smooth yang berarti "Mulus", wah gila bener mann… Aku sendiri pernah bawain lagu
itu ma bandku, Reggie Ray Band yang kemudian berubah nama jadi Adlee
band. Mantab bener lagunya, apalagi melodi gitaris gaek itu mampu diikuti gitaris bandku.
Salah satu perenungan itu akan eksistensiku di dunia entertainment ini. Pun termasuk gayaku dalam berbagai hal termasuk pakaian dan penampilan yang notabene berkiblat pada budaya barat yang saat itu mulai aku hindari karena berbagai artikel yang kubaca mengenai keburukan pengaruh budaya tersebut pada remaja Indonesia. Saat itu aku masih terbilang remaja yang tengah mencari jatidiri di tengah hegemoni masyarakat heterogen ini.
Oh iya, orang gila ituuu… Aku ralat dulu istilah “orang gila” karena
aku nggak cukup tega menyebut seperti itu, sebut aja orang yang sedang
sakit atau aku singkat dengan OS2 (Oz two). Dia berteriak saat trafic light mulai hijau, tentu saja suaranya berlomba dengan kendaraan yang mulai masuk
gigi satu tancap gas. Tapi karena dia terlampau dekat denganku suaranya
masih terdenger jelas, dia berteriak,
Wahai orang-orang yang angkuh…! Bersimpuhlah kalian…!
Karena akupun termasuk orang-orang angkuh seperti kalian…!
Wahai orang-orang yang sombong…! Menggonggonglah… Layaknya anjing-anjing terminal yang kelaparan…!
Wahai orang-orang bermuka dua…!
Kenapa tak kau tambah mukamu menjadi tiga, empat, lima…
Dia termenung sejenak, seakan berpikir, lalu menghampiriku dengan
tatapan matanya yang liar, tajam dan menusuk cukup membuatku takut, bahkan pikirku preman pun mampu dijadikannya pengecut. Aku
sempat berpikir ambil langkah seribu, lari, kabur dan berlalu, tapi Oz two
terlanjur memegang tanganku lantas bertanya dan sorot mata yang tetap tajam dan menusuk,
Apa…? Apa…? Berapa…? Setelah lima itu berapa…? Aku lupa…! Aku lupa…!
Gila, jantungku hampir dibuatnya copot, apalagi saat dia
menarik-narik tanganku, dengan mulut gemetar kujawab… enn…ennam pak! Oz
two tersenyum memandangku dan berkata,
Ya iya laaah…(gayanya mirip cewek2 ABG) Tapi suer lho, aku tidak salah memilih tempat bertanya…! Hei kamu cowok cakep, you masih remaja, remaja masih riskan dalam menentukan jatidirinya, dengarkan nasihatku, jangan salah memilih tempat bertanya, karena itu akan menentukan pilihan hidupmu!
Oz two menasihatiku sambil tertawa terbahak-bahak kemudian dia melepaskan tanganku yang masih tercengang dengan nasihatnya, benarkah dia gila? Kalau benar gila, mustahil dia mampu memberi nasihat yang begitu bermakna menurutku. Oz two
berpaling berjalan menuju tiang lampu merah memeluknya sambil berkata dengan nada rendah dan mata berkaca-kaca, sejenak kemudian dengan nada tinggi seakan mengumpat mereka yang membuatnya marah, sejenak kemudian dia berteriak dengan tawa yang terbahak, lalu kembali berkaca-kaca dan menangis…
Malang sekali apa yang harus aku terima… setan alaaassss…!
Kenapa kalian tega…? Kenapa…? Apa salahku…? Aku tak pernah berdusta…!
Dunialah yang slalu berdusta…!
Mana mungkin saat melihat buah apel jatuh… dia temukan gaya gravitasi…
Mustahil saat mengerami telur, Edison temukan lampu pijar…!
Mana mungkin orang tuli seperti si Graham Bell bisa menemukan telephon…!
Mustahil…! Mustahil manusia semulia kita dikatakan hasil evolusi dari
kera… Kalianlah yang kera…! Setidaknya rakus bagaikan kera…! Tapi aku… Aku bukan berasal dari kera… aku tidak rakus seperti kera… Aku
berasal dari Adam, manusia pertama yang diciptakan Tuhan…! Semua
dusta…! Dusta…! Dunia telah melakukan kedustaan, kebohongan publik… Kedustaan semakin merata…! Hanya saja kalian tidak
sadar…!
Dan kalian tahu…? Satu lagi kedustaan yang kini mulai terungkap…. Ternyata tidak pernah ada manusia yang pernah menginjakkan kakinya di bulan, tidak pernah ada… bullshit jika Neil Armstrong pernah mendengar suara adzan di
bulan, kenapa? karena dia belum pernah menginjakkan kakinya disana… Bodo amat sih lho! Belum ada manusia yang mampu menginjakkan kakinya di sana. Hanya untuk
mengalihkan perhatian saja, agar ummat Islam memandang benar kebohongan mereka… dan akhirnya para astronot itu termasuk Neil Amstrong mati satu-per satu
karena sebab yang tidak wajar; kecelakaan lalu lintas, home accident, kecelakaan kecil yang membuat nyawa mereka terengut tak berarti, itu semua karena kebiadaban negara yang mengaku
polisi dunia, yang katanya menjungjung tinggi HAM, tapi kenyataannya merekalah pelanggar HAM terbesar dan terberat di dunia ini.
Kenapa….??? Kenapa??? Kenapa harus aku yang menjadi korban, dia
tidak membunuh munir sang penjungjung tinggi HAM, tanyakan pada BIN, Badan
Intelegent Negara, siapa yang meracuni Munir? Tanyakan pada mereka,
kenapa Michelle Leslii, hanya dijatuhi hukuman 3 bulan dipotong masa
tahanan lalu bebaslah dia, sedangkan anakku, di saku celananya ada
selinting ganja dan dia pun bersumpah tidak tahu-menahu kenapa ganja itu ada di sana, anakku dihukum 3 tahun penjara….! Keadilan macam apa ini…???
Oz two menangis dipelukan tiang lampu merah. Aku tidak mengerti apa
yang dia bicarakan… Bising mesin kendaraan menelan tangisannya.
Airmatanya seperti hujan deras di bulan september, membeku bagaikan
salju di bulan Desember, mukanya memerah seperti terik mentari di bulan
Agustus. Tak terputus tangisannya saat aku seberangi lampu merah itu.
Diseberang sana kusempatkan menoleh untuk terakhir kalinya ke arah
Oz two, dia menatapku, tersenyum tanpa arti. Traffic Light mulai hijau,
kendaraan pun berlomba bagaikan memasuki start balapan.
Sebuah kendaraan dinas berflat merah meluncur deras dikejauhan sana,
tiba-tiba Oz two meloncat ke tengah jalanan, tertabrak tak terhindarkan,
terlindas tak dapat terelakkan, darah Oz two bercucuran menggenangi
jalan… merah tampak jelas, semerah flat mobil dinas. _________________ Edit from my story "Oz Two" Januari 2k1 posted in Februari 2005.
No Comments »
Dear reader setia blog friendsterkuh (mode narsis on). Kalo kamu emang pembaca setia, pasti merhatiin Archives pada blogku inih. Disana terlihat Arsip bulan Februari sampai Juli 2007 tidak tercantum. Karena pada 6 bulan itu; 3 bulan diantaranya aku terbaring sakit, 2 rumah sakit sempat menjadi tempat nginep; 1 bulan di rumah sakit, 2 bulan terbaring kaku di kamar tak bisa bergerak sedikitpun dan 3 bulan kemudian mulai bangkit dan lalui masa-masa pemulihan dengan tibbun nabawi (pengobatan cara Nabi) hijamah (bekam).
Cukup lama juga, tapi tidak selama Nabi Ayyub As., yang begitu sabar, 18 tahun menderita sakit tanpa keluh kesah. Sedangkan aku, 3 bulan saja keselnya minta ampun. Mudah2an itu sakitku yang paling lama dan terakhir. Dan mudah2an sakit aku dan kamu fren sebagai pelebur dosa-dosa, karena setitik duri saja yang menancap pada diri orang yg beriman (semoga kita termasuk orang yg beriman) itu merupakan penebus dosanya, tentu saja jika dia sabar, berusaha, dan tawakal.
Dan mudah2an juga kedepannya aku dan kamu juga All Friendster lebih mampu menjaga kesehatan, ga terlalu sering online di depan kompi, karena sakit kemaren tuh salah satu penyebabnya, "hampir" 24 jam aku online; urusan kerja plus urusan pribadi; bikin web forum, blogging, browsing & searching data, dan sebagainya. Sampe lupa makan, sedikit minum, ngerokok kayak kereta api ditemani kopi kental sebagai pengganjal rasa lapar… dan akhirnya… ususku rusak, paru-paru pengap, tidak tahan lagi menahan gempuran pola makan yang tidak sehat.
Saat aku mulai merasa sakit, sempat terekam dalam jawabanku pada shoutbox oggix (pesan ke-6 dari atas) pada blogku di blogspot,
05:52 AM Jan 21, 2007
[jawabanku] »
Empat hari kemaren kena serangan virus stomic, perut nih melilit…
jadi lemes! Kayaknya nggak kemana2 weken, mulihin diri dulu.
Blog friendsterkuh inih mulai online pada Desember 2005 berjejer rapih sampai Januari 2007, lalu mulai lagi bulan Agustus 2007 sampe sekarang (Desember 2007). So, udah genap dua tahun blog ini online dan menampung catatankuh (walau tidak semuanya), keluh kesah, cerita pendekkuh, artikel, resonansi, info, tutorial, dan sebagainya.
Dear friendster, jaga kesehatan ya, bukan karena sehat itu mahal tapi justru sehat itu murah tapi sakit itu lho yang mahal. "Loh ko bisa? Bukannya sehat itu yang mahal?" Ya bisa, pengertiannya kita balik, begini, berapa biaya keluar karena kita sakit sedangkan untuk sehat (menjaga kesehatan) cukup murah; makan teratur, istirahat cukup, pikiran bersih, hati lapang, senantiasa bersyukur, selalu bersabar, qonaah -menerima apa adanya-, dan minum air putih minimal 8 gelas sehari… halaaaah… kayak dokter ajah!
Tapi bener lho…! Jaga kesehatan ya… karena SAKIT itu MAHAL, SEHAT itu MURAH…!
Dan… Ternyata, genap 2 tahun sudah blog friendsterkuh… __________________ NB: Insya Allah, ntar kalo ada waktu dan umur, aku tuliskan catatan pengalaman saat 3 bulan terbaring tak berdaya, karena banyak cerita yang cukup indah, hikmah yang menggugah, dan teman-teman baru di rumah sakit yang menjadi saudara baru, dan masih banyak lagi…
No Comments »
Jum’at pagi, liburan ini mengisi hari dengan bersih-bersih ruangan plus beresin perpustakaan pribadi. Buku kecil dengan cover warna putih bertumpuk diantara buku-buku Haraki, "Breaking The Time" judul buku itu, karya Satria Hadi Lubis, MM., MBA., penulis buku-buku Manajemen Haraki.
Buku ini aku dapat dari Pameran Buku di Landmark lima tahun yang lalu. Masih utuh tampak baru. Huh, Kebiasaan buruk, setiap beli buku dari pameran langsung mampir ke lemari. Ga sempat kebaca. Sampai numpuk. Tapi ada enaknya juga, saat butuh sesuatu sebagai referensi tinggal nyari.
Satria Hadi Lubis, ayah dari 5 anak ini sejak mahasiswa tahun pertama aktif di berbagai kegiatan dan organisasi Islam. Dalam buku yang berukuran kecil itu ia menuliskan,
"Waktu adalah momentum masa. Waktu adalah pintu menuju kesuksesan. Siapa saja yang mampu mengisi dan mengambil momentum yang tepat di antara penggalan masa, maka ia telah meraih kunci kesuksesan."
Tulisan-tulisannya mengenai Manajamen Haraki memang mantep. Direktur Eksekutif Lembaga Manajemen LP2U yang bergerak dalam bidang Human Resource yang kini berusia 42 tahun menambahkan,
"Salah satu kunci kesuksesan itu adalah bagaimana kita menggunakan waktu yang efektif dan produktif yaitu dengan menghargai prinsip pokok sebagaimana dikemukakan oleh Robert Fritz, penulis The Path of Least Resistance, yakni Melakukan sesuatu pada saat itu juga merupakan saat yang paling penting dalam hidup Anda. Maksud dari pernyataan tersebut yaitu, jika kita sadar bahwa melakukan sesuatu pada saat itu juga adalah hal paling penting, kemudian saat berikutnya merupakan hal paling penting berikutnya, demikian juga yang berikutnya dan seterusnya, maka kita akan makin bijaksna dalam penggunaan waktu."
Mantab…! Hal sepele yang kadang sangat sulit kita lakukan. Mungkin kebanyakan kita sebalik dari pernyataan tersebut, sering menunda-nunda pekerjaan sampai bertumpuk yang akhirnya membuat kita pusing tujuh keliling, cape deh! Buntutnya, morang-maring ga karuan. Demikian yang kini kurasakan… Banyak kerjaan yang numpuk belum terselesaikan. Mungkin yang paling penting saja yang dapat kubereskan, selebihnya…
"Lebih dari 100 tahun lalu Bruce Barton menulis, Hal yang paling penting untuk mencapai suatu kesuksesan adalah memulai pada saat itu juga di manapun kita berada. Dan Theodore Roosevelt mengatakan, Kerjakan apa yang dapat Anda kerjakan dengan kemampuan yang Anda miliki, di manapun Anda berada."
Demikian dosen STAN (Sekolah Tinggi Akuntansi) ini menegaskan dalam tulisannya. Mungkin perkataan Roosevelt yang baru dapat aku praktekkan.
Breaking the Time bisa juga disebut "Strategi Jitu Mengendalikan Waktu" Buku itu memang bagus bagi mereka yang super sibuk dan sering terjebak dalam kebingungan tentang bagaimana mengatur waktu atau sebaliknya, bagi mereka yang mempunyai waktu yang sangat luang sehingga terjebak pada "apatisme" karena tidak tahu harus berbuat apa dalam hidup.
Padahal jauh sebelum buku itu dan jauh pula sebelum para piloshof serta tokoh-tokoh menuliskan kata-kata hikmah mengenai manajemen waktu, Allah Swt dalam Alquran berfirman,
Demi waktu, Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat
menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi
kesabaran. (Qs. 103:1-3)
Dan Katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)
Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu
apa yang telah kamu kerjakan. (Qs. 9:105)
Katakanlah: Hai kaumku, bekerjalah sesuai dengan keadaanmu,
sesungguhnya aku akan bekerja (pula), maka kelak kamu akan mengetahui,
siapa yang akan mendapat siksa yang menghinakannya dan lagi ditimpa
oleh azab yang kekal. (Qs. 39:39)
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain. (Qs. 94:7)
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (Qs 59:18)
Dan…. masih banyak ayat-ayat Allah yang menerangkan tentang waktu dan bekerja serta pemanfaatan keduanya dengan baik. Tinggallah semuanya kembali pada diri kita. Mampukah kita mengaplikasikannya. Jujur saja, aku belum bisa! Tapi aku belajar, kita belajar… Berusaha, Breaking The Time!
No Comments »
|